"Dari hasil kajian KLH untuk Sungai Ciliwung, setidaknya 70.000 ton sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung dan 70%-nya merupakan sampah domestik," ujar Kambuaya, dalam sambutannya di acara 'Ciliwung Bersih', dipinggir Sungai Ciliwung, Karet, Jakarta Pusat, Sabtu (18/2/2012).
Menurut, Kambuaya, dari total sampah yang terbuang ke sungai Ciliwung, hanya 7-8 ribu ton/tahun yang mampu ditangani. "Hanya 7-8 ribu yang mampu ditangani dipintu air dan sisanya terpaksa dibiarkan mengalir sampai ke laut," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang KLH sedang melakukan penilaian kepada perusahaan-perusahaan yang berada disepanjang pinggiran sungai Ciliwung. "Seberapa besar tanggung jawabnya terhadap sungai Ciliwung, bagaimana pengelolaan limbahnya, apakah dibuang ke sungai. Kalau penilaiannya buruk, maka akan ada sangksi administratif sampai pidana bagi perusahaan tersebut," tegasnya.
Di tempat yang sama, Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto, mengatakan, pada 2015 sedikitnya 250 juta jiwa penduduk akan menyesaki daerah perkotaan. "Sementara, saluran sanitasi yang layah sampai saat ini diperkotaan baru 51%, sementara target 2015 sanitasi setidaknya mencapai 61%," ujar Joko.
Apalagi pengelolaan sampah, lanjut Joko, ratà-rata didaerah perkotaan hanya 60% saja. "Sementara dana Sanitasi dari APBN hanya Rp 14,2 triliun untuk seluruh kabupaten/kota. Tentu dana tersebut belum cukup," tutur Joko.
Apalagi dari data kementeriannya, untuk sampah yang masuk kesungai ciliwung mencapai 360 m3/hari. "Dan dari jumlah tersebut, hanya ditangani satu pintu air saja, yakni pintu air Manggarai," tandas Joko.
Sementara, ketika ditanyakan salah satu sumber pembuangan sampah yakni pemukiman dipinggir sungai Ciliwung kepada Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
"Mau diapakan? Digusur? Wah kita bisa kena pasal UU HAM. Pemerintah DKI Jakarta terus mencari solusi, salah satunya menata daerah tersebut dan mensosialisasikan jangan menbuang sampah ke sungai," tandas Fauzi Bowo.
(lh/lh)










































