"Dari data yang dihimpun pada 2011-2012 di kOta Samarinda saja sudah sebanyak 6 orang korban jiwa yang berusia di bawah 13 tahun akibat lahan sisa perusahan tambah yang tidak ditutup kembali. Mereka tewas tercebur," kata Koordinator Jatam, Endri S Wijaya.
Hal itu disampaikan dia dalam konferensi pers di Sekretariat Jatam, Jl Mampang Prapatan II No 30, Jakarta Selatan, Jumat (17/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena banyaknya lubang-lubang raksasa di kawasan perumahan padat penduduk, tidak heran ada anak-anak yang luput dari pengawasan orang tua bermain di sana. Bagaimana awalnya, anak-anak itu pun tercebur dan tewas setelah menghirup kandungan beracun di dalam lubang tersebut. Dia menyebut, korban tewas ditemukan di Desa Semboja, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda.
"Sisa bekas pertambangan itu mengeluarkan senyawa kimia yang disebut air asam pertambangan karena teroksidasi hujan yang turun dan bercambur dengan kandungan batu bara itu," sambung Endri.
Dijelaskannya, data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) menyebut 150 lubang bekas pertambangan dibiarkan begitu saja menganga. Ironisnya kendati telah menyebabkan adanya korban jiwa, tidak ada sanksi bagi perusahaan tambang yang yang tidak bertanggung jawab menutup lubang itu.
"Ini merupakan indikator terjadinya praktik bisnis baru dari konsesi pertambangan. Yang mengurus perizinan itu dalam hal ini Pemkot. Itu dilihat dari jumlah perizinan ketika pilkada cenderung meningkat, walaupun praktiknya di lapangan belum dilakukan aktivitas," terang Endri.
Bisnis konsesi terjadi tatkala perusahaan yang telah memiliki izin pertambangan menjual kembali izinnya ke perusaan tambang lain untuk menggarap. Alhasil terjadi tumpang tindih kepemilikan izin pertambangan.
Dalam jumpa pers itu, Jatam juga memutarkan film dokumenter tentang anak yang tenggelam di lubang tambang. Dalam film terdapat rekaman di mana ada warga yang anaknya tewas lantaran tercebur lubang bekas galian pertambangan.
"Mana ini tanggung jawab perusahaan, katanya 20 menit ada tim yang nolong. Sudah 4 jam nggak ada yang menolong anak saya," teriak seorang ibu sambil menangis histeris.
(vit/ndr)











































