Doi Tung, desa dari salah satu provinsi di Chang Rai, Thailand, lain dulu lain sekarang. Dulu opium bertebaran di lereng pegunungan, kini decak kagum bertebaran dari mereka yang menyaksikan perubahan dari masa suram yang menyelimuti wilayah tersebut.
Siapa sangka lereng hijau di pegunungan Doi Tung dulunya merupakan salah satu wilayah yang menghasilkan 75 persen kebutuhan Papaver Somniferum (nama latin opium) dunia, gersang dan tentu tandus. Hanya ribuan hektare tanaman opium terhampar di lerang pegunungan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keinginan untuk mengubah apa yang ada di hadapannya tertanam kuat dalam benak Sirnagarindra. Perlahan, cita-cita perempuan yang sangat dicintai rakyatnya itu terwujud.
Perlahan pula ladang opium yang tersebar di sekitar 25 hektare 'menghilang'. Kini hamparan lereng mewujud tanaman kopi dan makademia, hijau.
Dua tanaman ini sekaligus menjadi produk komoditi masyarakat setempat dan menjadi nilai tambah bagi kehidupan sekitar 20 ribuan penduduk di sekitar Doi Tung.
Implementasi perubahan dipercayakan kepada Mae Fah Luang Foundation (MFLF), sebuah lembaga Non Goverment Organisation (NGO) yang berada di bawah perlindungan kerajaan, wilayah ini perlahan disulap menjadi kawasan mandiri dalam Doi Tung Development Project.
Ada yang menarik di balik pemberian nama yayasan tersebut. Mae Fah Lung jika diartikan tak lain adalah Royal Mother From the Sky (Ibu Ratu yang Turun dari Langit).
"Dahulu Ibu Suri pertama kali mengunjungi Doi Tung menggunakan helikopter," tutur Senior Program Manager MFLF, Ramrada Ninnad, kepada detikcom dalam kunjungan ke Doi Tung, Selasa (14/2/2012).
Melalui tiga konsep dasar, MFLF berupaya untuk menyulap apa yang ada di Doi Tung saat itu dengan kehidupan 'normal' penduduk pada umumnya; mengangkat harkat dan martabat penduduk sekitar. Adapun 3 konsep dasar tersebut terbagi menjadi pemulihan kesehatan, dukungan serta mata pencarian, serta yang tidak kalah penting adalah pendidikan.
"Kita mengembalikan dulu kesehatan mereka, tidak mungkin mereka bekerja dalam keadaan sakit," tutur Earth, sapaan Ramrada, dalam sekilas presentasinya di Hall of Inspiration.
Alasan ini masuk akal. Bagaimana tidak, mayoritas penduduk di lereng pegunungan tersebut menggantungkan hidupnya dengan berladang opium. Bukan hanya menanam, baik laki-laki pun perempuan menjadi pecandu opium. Candu yang berdampak malasnya penduduk untuk berbuat sesuatu untuk mencari nilai lebih bagi kehidupan mereka.
Langkah awal yang ditempuh adalah pemulihan 1.000 penduduk dengan program rehabilitasi selama 1.000 hari. Meraka 'dipaksa' untuk melepaskan ketergantungan pada candu dan akan dikembalikan ke desa mereka bila telah dinyatakan pulih berdasarkan hasil tes urin yang dilakukan rutin oleh tim medis yang ada di yayasan.
"Saat mereka kembali, mereka menjadi polisi di lingkungannya sendiri untuk memantau warga yang masih ketergantungan dengan candu dan menanam opium. Mereka rutin bepatroli untuk memastikan di wilayah tersebut opium mulai berkurang sampai tidak ada lagi," jelas Earth.
Langkah selanjutnya adalah memberdayakan lahan yang gersang tersebut dengan komoditi bernilai jual selain opium. Tentunya, jelas Earth, hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan pasalnya tidak mudah membuat masyarakat yakin akan perubahan yang dilakukan pihaknya.
"Saat kita mengetuk pintu ke pintu rumah peduduk mereka menenteng sejata, kita harus bicara perlahan dan meyakinkan program peralihan lahan yang kita lakukan demi masa depan mereka," ungkap Earth.
"Langkah-langkah proyek pembangunan dilakukan secara bekelanjutan, karena tidak mungkin dilakukan dalam satu-dua tahun," imbuhnya.
Sangat mencengangkan ketika lahan dan juga pola pikir masyarakat berubah dari penanam serta pecandu opium ke masyarakat mandiri yang bangun dari massa suram, income per kapita mereka meroket tajam hingga saat ini. Bila dalam tahun pertama proyek pembangunan mereka mendapatkan 3.000 Baht, saat ini mereka dapat mengantungi 30.000 Baht dalam setahun.
"Evaluasi terus dilakukan, terutama bagaimana yang dihasilkan dapat menjadi nilai jual tinggi," katanya.
"Kami mengupayakan tidak ada sisa dari apa yang kami hasilkan, seluruhnya kita manfaatkan untuk komoditas," Earth melanjutkan
Penerapan implementasi konsep development project yang terakhir adalah dari sektor pendidikan. "Kita memfokuskan pendidikan kepada penduduk dari mulai sejak bayi," tutur Earth. "Ketika orangtua anak-anak itu bekerja, setiap bayi dititipkan di sekolah untuk memperoleh pendidikan laik."
Sekolah dibagun dari biaya social responsibility (CSR) kerja masyarakat setelah develpoment program yang dilaksanakan di wilayah tersebut berjalan mapan. Bahkan, masyarakat yang dulunya tidak mengenal dunia pendidikan saat ini dapat berbangga karena mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai dengan perguruan tinggi di Thailand.
Lain dulu lain sekarang. Doi Tung yang dikenal sebagai penghasil candu terbesar dunia kini menjadi 'candu' wisata yang mengagumkan. Segala hasil produksi dari mulai sandang, pangan buah karya warga lokal dapat dinikmati di sini. Ramuan tangan lokal tidak menghilangkan citarasa modern dari sebuah produk yang dihasilkan. Seluruhnya dibuat dengan mengandalkan keahlian tangan serta ketelitian dari si peramu.
Pola developing program inilah yang akan diterapkan di dua kawasan Indonesia, khususnya di Lamteuba, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Dua kawasan ini merupakan kawasan yang menjadi titik tanaman ganja. Desember 2011, BAdan Narkotika Nasional (BNN) menemukan dan memusnakan sebanyak 157 hektare ladang ganja yang tersebar di kawasan Aceh Besar.
Tentunya, upaya ini tidak semudah membalikan telapak tangan. Selain membangun kesadaran masyarakat akan bahaya peredaran narkotika, peran pemerintah guna mendukung program pemberdayaan masyarakat laiknya di Doi Tung sangat diperlukan. Dengan demikian, apa yang menjadi cita-cita bersama Indonesia Bebas Narkoba 2015 dapat terwujud.
(ahy/gah)











































