Rukunkan Nahdliyin, PWNU Jateng Usul PKB - NU Dukung Hasyim
Jumat, 30 Jul 2004 16:54 WIB
Semarang -
Pilpres putaran pertama menyisakan perpecahan di tubuh NU. Ada yang mendukung Hasyim, Hamzah Haz, Salahudin Wahid, dan bahkan Kalla. Untuk merukunkan warga nahdliyin, PWNU Jateng meminta PKB - NU mendukung Hasyim pada putaran kedua.Ketua PWNU Jateng Muhammad Adnan mengatakan baik dukungan secara individual maupun kelembagaan lebih memberi peluang merukunkan kembali warga nahdliyin. "Mereka tak lagi bingung. Hasyim jelas NU dan punya hubungan historis dengan PKB. Ia adalah pelopor PKB Jatim," katanya kepada wartawan di kantornya, Jl. Dr. Cipto Semarang, Jum'at (30/07/2004).Adnan menambahkan pokok permasalahan dalam dukungan itu bukan untuk meloloskan Hasyim sebagai wapres, tapi dalam konteks membangun kembali ikatan-ikatan yang sempat pecah karena afiliasi politik. Jika dukungan itu bisa dimateriilkan, hal itu bisa memberi kemanfaatan sesama warga NU.Meski demikian, lanjutnya, pihaknya tetap komitmen pada khittah. Untuk itu, dukungan kepada Hasyim semaksimal mungkin tidak memakai atribut NU. "NU tetap netral, tidak berpolitik, dan membebaskan pilihan politik warganya. Tapi alangkah baiknya, kalau mereka memilih orang dari lingkungannya sendiri," paparnya.Mengenai hasil evaluasi pilpres pertama, Adnan mengatakan dua dari 36 pengurus daerah NU di Jateng secara terang-terangan tak mendukung Hasyim. Satu benar-benar tidak mendukung Hasyim, sedangkan lainnya golput alias tak memilih."Kami memang tidak pernah menginstruksikan atau melarang dalam praktek dukung-mendukung. Kalau ternyata hanya 34 pengurus daerah yang mendukung Hasyim dan dua lainnya tidak, ya tidak masalah," tutur Adnan.Pria yang juga staf pengajar di Fisipol Undip Semarang ini menegaskan pihaknya tak akan menjatuhkan sanksi. Dirinya hanya berharap dalam suhu politik yang kian memanas, semua warga nahdliyin tidak ikut larut di dalamnya."Untuk putaran kedua, kami juga mempersilahkan pengurus teras di 36 daerah menentukan pilihannya. Tak ada usaha untuk memaksa mereka menyatukan suara," demikian Adnan.
(nrl/)










































