Informasi dari sahabat Herry Latif melalui telepon pada petang hari menyebutkan bahwa Pak Pardi, demikian dia biasa akrab disapa, terjatuh saat berolahraga bulutangkis bersama-sama temannya pada Minggu (5/2/2012).
Doktor hukum lulusan Rusia tersebut meskipun usianya sudah 71 tahun (lahir di Jakarta, 1941), namun selalu terlihat fit, energik, dan penggila olahraga bulutangkis. Diduga pada saat asyik bersemangat memacu permainan itu Pak Pardi tiba-tiba mengalami gagal jantung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tepat lima hari kemudian, salah satu sesepuh masyarakat Indonesia di Negeri Belanda yang cukup dihormati itu berpulang menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya.
Duta Besar RI Retno L.P. Marsudi melalui pesan pendek menyatakan sangat berduka dan kehilangan begitu mendapat laporan bahwa suami dari Tatiana Supardi-Bogdanova dan ayah dari Iman, Agustina, Saleh dan Hani itu telah meninggalkan dunia fana.
"Saya atas nama pribadi dan staf KBRI Den Haag merasakan duka sangat mendalam dan kehilangan atas berpulangnya almarhum," tulis Dubes.
Dubes mengenang almarhum tidak saja merupakan mitra KBRI, namun juga sebagai teman dekat sejak lama. Dubes juga segera menugaskan stafnya untuk memberikan fasilitasi kekonsuleran yang diperlukan.
"Saya dan suami juga sedang mengupayakan untuk bisa melayat ke rumah duka," demikian Dubes.
Sementara itu Burhan Azis, salah satu sahabat Pak Pardi, saat dihubungi detikcom malam ini menyebutkan bahwa saat ini jenazah almarhum telah dibawa ke kamar jenazah di Zaans Medical Center dan ditangani sepenuhnya oleh pihak asuransi.
"Belum ada kepastian kapan beliau akan dimakamkan. Yang jelas beliau pernah berwasiat agar beliau disembahyangkan dan dimakamkan secara Islam," pungkas Burhan. (es/es)











































