"Saya sekarang sudah insyaf," ujar Iwan kepada detikcom, Jumat (10/2/2012). Iwan kini tak lagi naik atap KRL ekonomi - atau yang biasa disebut atapers - karena keuangannya sudah mapan. Alasan lainnya karena dia pernah ikut acara pertemuan sesama pengguna KRL.
"Di acara itu, saya diberitahu bahayanya berada di atap KRL," kata Iwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang gosong karena pecicilan, nggak bisa diem," tutur Iwan yang kini pelanggan commuter line bertarif Rp 6.000 ini.
Iwan menceritakan, dia dulu berani naik KRL di atap karena diajak tetangganya. "Habis mau naik di dalam KRL ekonomi penuh banget, sesak, nggak bisa nafas," cerita Iwan yang biasa naik KRL dari Cilebut, Bogor ini.
Iwan mengerti posisi atapers yang terus dimaki-maki masyarakat. Namun PT KAI juga harus beraksi juga dengan membuat gebrakan baru.
"Kalau mengusir atapers tapi nggak ada gebrakan baru mana mungkin bisa teratasi," ucap dia.
(nik/nrl)











































