“Memang warga mengaku selama ini Dedi sering menyumbang. Tapi sumbangan yang dia berikan ini sebenarnya tidak sesuai dengan hasil curiannya sendiri. Kalau dia mencuri Rp 1 miliar dia sumbangkan separohnya ke warga, bolehlah kalau disebut Robin Hood. Lha ini yang dia berikan hanya hitungan jutaan saja. Masak sih orang seperti itu dijuluki Robin Hood. Saya kira ini terlalu berlebihan,” kata Kapolresta Batam Kombes Karioto pada detikcom, Jumat (10/2/2012).
Menurut Karioto, Dedi merupakan residivis yang melakukan aksi pencurian lintas negara. Dia pernah ditembak polisi Malaysia dalam kasus pencurian dan pernah beraksi pula di Singapura dan Hongkong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau pencurian yang dilakukan Dedi cs ini yang hanya memberikan sedikit bantuan masyarakat lantas menjadi pembenaran untuk berbuat tidak kriminal, tentunya ini sudah tidak benar lagi. Kiranya masyarakat jangan menilai sangat berlebihan bahwa Dedi ini seperti Robin Hood,” kata Karioto.
Karioto menyebut, selain mencuri, Dedi juga memiliki LSM bernama Bela Nusantara dan memiliki surat kabar bernama Koran Pidana Koruptor yang disingkat menjadi KPK.
“Nah kita sedang cek, apakah LSM-nya ini terdaftar apa tidak. Jangan-jangan semua ini hanya untuk mengelabui masyarakat. Dedi ini warga Batam yang berasal dari Palembang,” kata Karioto.
Menurut Kapolresta Batam, jika Dedi berbuat baik kepada masyarakat di sekitar rumahnya, itu hal yang lumrah saja. Sebab, kebaikan yang dia tunjukkan itu tentunya untuk menutupi aktivitasnya sebagai pencuri.
Sementara itu salah seorang warga Batam, Khoirul Fahmi menyebutkan, Dedi yang tinggal di kawasan Tanjung Singkuang memang dikenal dermawan kepada masyarakat. Misalnya, Dedi menyumbang untuk bangunan masjid, menyumbang dana bila ada warga yang terbebani biaya rumah sakit.
“Dia dikenal warga dermawan karena sering membantu warga sekitar rumahnya. Tapi memang warga selama ini tidak mengetahui apa pekerjaan Dedi. Begitu ditangkap polisi, barulah warga kaget ternyata Dedi seorang pencuri,” kata Khoirul.
Walaupun begitu, kata Khoirul, warga tetap menaruh simpati kepada Dedi. Karena warga menilai, Dedi masih jauh lebih baik dibandingkan para koruptor yang menelan uang rakyat.
“Masyarakat bukan melihat jumlah yang diberikan Dedi, namun melihat lebih pada sosok dermawannya yang selalu meringankan bila ada kebutuhan warga. Di mata warga, Dedi masih lebih baik ketimbang koruptor di negara kita ini,” terang Khoirul.
Sementara itu dari Jakarta, anggota DPR Komisi IX Herlini Amran mengatakan tertangkapnya komplotan Dedi yang berjuluk "Robin Hood" mengindikasikan tidak meratanya kesejahteraan di negara Indoensia. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang.
“Belajar dari Robin Hood, mestinya Pemerintah harus segera mengevaluasi program-program pengentasan kemiskinan yang selama ini tidak signifikan dalam mencapai visi pembangunan pemerintah dalam pendekatan Pro-Poor,” ujar politisi PKS ini.
“Mungkin banyak robin hood-robin lain di luar Batam, karena merasa iba melihat kondisi kesejahteraan yang tidak merata di indonesia,” ujar Herlini.
(cha/nrl)











































