Eks Pengurus PD Sulut: BB dan Rp 30 Juta Uang Muka Kubu Anas

Eks Pengurus PD Sulut: BB dan Rp 30 Juta Uang Muka Kubu Anas

- detikNews
Kamis, 09 Feb 2012 18:45 WIB
Eks Pengurus PD Sulut: BB dan Rp 30 Juta Uang Muka Kubu Anas
Jakarta - Politisi PD di daerah yang menguak politik uang saat Kongres II PD di Bandung bertambah. Setelah Diana Maringka, eks Wakil Ketua DPD PD Sulut Bidang Kominfo, Herdie Togas, memberikan pengakuan serupa. Uang Rp 30 juta dan Blackberry yang digelontorkan kubu Anas, dia umpamakan sebagai uang muka menjelang hari pemilihan ketua umum PD.

"DPC-DPC sudah mendapat uang muka di awal kongres, jumlahnya bervariasi ada yang Rp 30 juta dan juga lebih ditambah Blackberry. Plus nomor yang sudah disediakan, jadi mereka dikontrol terus," kata Herdie saat berbincang dengan detikcom, Kamis (9/2/2012).

Herdie mengungkapkan, suasana kongres saat itu bak pasar tradisional. 3 Kubu yang mengusung calonnya masing-masing (Anas, Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie) saling berebut simpati kader-kader dari Sulawesi Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka, kata Herdie, saling meminta pengkondisian dari kader Sulut agar dapat memilih calon yang akan maju menjadi ketua umum.

"Tapi yang paling agresif itu kubu AU (Anas Urbaningrum)," papar Herdie yang saat ini memilih untuk menjadi kader yang tidak duduk di struktur DPD PD Sulut.

Saat ditanya siapa orang yang maju untuk mengkondisikan pemilihan Anas dalam kongres, Herdie menyebut satu nama yang sama dengan yang disebut oleh Diana Maringka.

"Dia anggota DPR dari Sultra," katanya sambil menyebut nama orang yang dimaksud.

Sebelumnya, mantan Ketua DPC Minahasa Tenggara Diana Maringka, mengakui adanya politik uang dalam pemilihan kongres Pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) 2010 lalu.

Diana mengakui, saat Kongres PD II tahun 2010 di Bandung, dia kebagian uang Rp 30 juta, US$ 7.000 dan sebuah Blackberry. Dia siap mengembalikan semua bonus itu ke kubu Anas.

Kubu Anas Urbaningrum lewat Benny K Harman dan Ahmad Mubarok, telah menyangkal tudingan politik uang itu. "Itu rekayasa," tangkis Benny, yang juga ketua Komisi III DPR.

(ahy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads