"Izinkan saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada seluruh hakim agung yang telah menyempatkan hadir pada pemilihan pagi ini. Terutama saya tujukan kepada pemilih saya yang telah membebankan amanat sebagai Ketua MA untuk meneruskan estafet Pak Harifin Tumpa," kata Hatta Ali saat memberikan pidato usai terpilih di gedung MA, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Hatta Ali adalah hakim agung yang paling sering muncul di hadapan publik. Hal ini dikarenakan Hatta juga menjabat juru bicara MA. Dalam berbagai pernyataan ke publik tersebut seakan Hatta Ali benar-benar mewakili sikap kelembagaan MA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sebagai organisasi Ikahi (Persatuan Hakim Indonesia), tidak pernah berpikir sedikit pun melakukan cara-cara tidak baik. Kami serukan kepada Ikahi supaya tidak melakukan demo seperti diberitakan," kata pria kelahiran Pare-pare, Sulsel, 7 April 1950 itu.
Sebagai Ketua Ikahi, dia juga banyak menimbulkan pro kontra. Seperti menarik iuran anggota untuk mengikuti lomba tenis, membangun masjid MA yang menelan biaya lebih dari Rp 10 miliar hingga pembangunan mess hakim di Jakarta. Iuran pembangunan mess ini ditarik dari hakim Pengadilan Negeri Rp 1 juta, hakim tingkat Pengadilan Tinggi Rp 1,5 juta dan hakim agung Rp 2 juta.
"Iuran itu adalah hasil musyawarah dengan Ikahi, bukan putusan saya. Tapi berdasarkan putusan seluruh cabang supaya dalam waktu 3 tahun periode saya memimpin, mess Ikahi sudah terbentuk," ujar Hatta Ali memberikan alasan.
Memulai berdinas menjadi hakim di Subang pada 1984, tapi itu tidak menghalangi Hatta Ali untuk aktif berorganisasi. Tercatat ia pernah aktif di berbagai organisasi baik yang bersifat kedinasan atau hobi seperti sepak bola dan tenis.
Hobinya ini juga yang menyeretnya ke dalam posisi dilematis. Yaitu saat menjadi hakim di Aceh, dia harus menghukum teman main sepakbolanya yang juga Ketua DPRD di Aceh atas kasus korupsi. "Kita harus profesional. Harus tega dan tegas," ujar Hatta.
(asp/nrl)











































