Dirjen Geologi: Belum Ada Temuan yang Mencurigakan di Buyat
Jumat, 30 Jul 2004 00:01 WIB
Bandung - Dari hasil pemantauan dan laporan yang diterima Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, belum ada temuan apa pun yang mencurigakan berkaitan dengan tudingan pencemaran Teluk Buyat. Operasional pertambangan oleh PT Newmont Minahasa Raya, sejauh ini juga tidak menunjukkan kejanggalan. Sedangkan aspek lingkungan, berkaitan dengan studi dan pemantauan Amdal berada di Kementerian Lingkungan Hidup.Demikian ditegaskan Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral Dr Ir Simon Sembiring kepada pers, di sela-sela lokakarya Pengelolaan Air Tanah di Auditorium Geologi, Jl Diponegoro Bandung, Kamis (29/7/2004).Menurut Dirjen, pihaknya selaku instansi teknis terkait yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pertambangan selalu melakukan pemantauan. "Yang dipantau ada 2 hal, yaitu desk work meliputi kegiatan administratif pertambangannya maupun field work, yaitu kegiatan di lapangannya. Sejauh ini tidak ada hal-hal yang menyimpang," katanya.Soal sinyalemen limbah buangan atau tailing yang dinilai mencemari Teluk Buyat, Dirjen menegaskan bahwa dari hasil penelitian yang ada ambang baku mutunya belum terlampaui. "Kandungan merkuri atau logam berat lainnya di sana, masih di bawah ambang batas," paparnya.Meski demikian, Dirjen berjanji jika dalam penelitian lebih lanjut nantinya memang ditemukan adanya penyimpangan, maka pihaknya tidak akan segan-segan untuk menghentikan atau bahkan mencabut ijin pertambangan perusahaan itu.Selain pencemaran lingkungan di Teluk Buyat, berkaitan dengan sinyalemen adanya perembesan logam berat ke air yang kemudian dikonsumsi warga di sana, Dirjen pun menegaskan bahwa hal itu juga perlu diteliti lagi."Selain logam berat sisa proses pertambangan, sebetulnya juga ada logam berat yang secara alamiah memang ada. Jadi sampai semuanya selesai dikaji, jangan kita gampang menuduh. Yang jelas, persoalan di Buyat ini memang harus diselesaikan secara tuntas. Jangan sepotong-sepotong," paparnya.Karena itu, sesuai dengan hasil Rakor di Kabinet terakhir, saat ini sedang ditunggu kehadiran kapal peneliti milik BPPT yaitu Baruna Jaya untuk melakukan penelitian lebih lanjut di lokasi itu. "Kapalnya masih dalam perjalanan ke sana. Secepatnya begitu tiba, akan langsung melakukan pengambilan sampel-sampel, melakukan pengukuran dan penelitian di lokasi," kata Dirjen lagi.Air TanahSementara itu, berbicara soal pengelolaan air tanah Dirjen meminta agar jajaran Pemda yang kini memegang kewenangan mengaturnya, untuk tidak segan-segan menegakkan aturan. "Jangan hanya mudah memberikan ijin, tapi tidak melakukan pengawasan," tandasnya.Dirjen menengarai selama ini terjadi ketidakadilan pemanfaatan air tanah oleh sementara pihak, termasuk Pemda. Misalnya PDAM yang dikenakan retribusi rendah, padahal konsumennya adalah orang-orang yang mampu. "Di lain pihak, warga miskin dan kalangan bawah, kesulitan air dan terpaksa membeli air dengan harga yang mencekik leher. Hal-hal semacam ini merupakan ketidak adilan pemanfaatan air tanah," katanya.
(nrl/)











































