PKL Bentrok dengan Aparat Pelabuhan Makassar
Jumat, 30 Jul 2004 08:19 WIB
Makassar - Bentrokan terjadi antara Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Mahasiswa yang berada di lokasi pelabuhan Sukarno-Hatta, Makassar dengan pihak administrator pelabuhan. Bentrokan ini terjadi sehubungan dengan surat edaran yang sebelumnya dikeluarkan pihak administrator pelabuhan (adpel). Surat edaran tersebut menyatakan bahwa PKL harus mengosongkan lokasi pelabuhan paling lambat tanggal 30 Juli 2004. Sebelumnya, sekitar 132 PKL yang berdagang di lokasi pelabuhan tersebut yang kebanyakan ibu-ibu sempat berteriak dan menangis menolak digusur. Namun bentrokan tidak bisa dihindari. Saat aparat mulai menyusup, akhirnya ibu-ibu itu pun melawan. Bentrokan antara massa PKL dibantu ditambah sejumlah mahasiswa yang membela PKL. Pihak administrator yang akan melakukan penggusuran berjumlah sekitar 200 orang. Adpel juga dibantu anggota polresta pelabuhan Makassar. Selain saling adu lempar antar PKL dan adpel, massa juga melakukan pembakaran di sejumlah titik. Massa PKL kebanyakan ibu-ibu dibantu anaknya. Beberapa ibu tampak membawa bambu runcing di arahkan kepada petugas yang ingin membongkar. Selain bambu, untuk mempertahankan lokasi dagangan mereka, kaum ibu juga membekali diri dengan tongkat, balok, rotan, dan senjata tajam. Sama halnya dengan penggusur. Bahkan pasukan adpel dilengkapi satu unit pemadam kebakaran dan kendaraan buldoser kecil. Bentrokan sudah berlangsung sejak pukul 08.00 WITA. Kini aksi lempar-melempar makin menghebat. Pihak akpel tampak mencoba menyusup massa dengan mengepung. Hingga berita ini diturunkan, belum dikabarkan adanya korban jiwa. Namun tampak seorang ibu ditangkap petugas akpel.
(dni/)











































