Koalisi Ambivalen SBY-Kalla?
Kamis, 29 Jul 2004 21:47 WIB
Jakarta - "Kalau bicara soal koalisi kita yang paling pertama melakukannya. Kita sudah berkoalisi dengan PBB, Golkar dan PKB kan itu belakangan setelah kami" kata Jusuf Kalla menjawab adanya tudingan pasangan ini dinilai kurang rajin melakukan kerja politik untuk koalisi. Pernyataan cawapres Partai Demokrat itu seakan ingin menghapus rumor yang beredar, kalau pasangan ini terlalu "sombong" untuk melakukan koalisi.Koalisi atau apa lah namanya, dalam perpolitikan di Indonesia sepertinya menjadi suatu yang wajib. Makna koalisi seharusnya bertujuan untuk menyelaraskan kesamaaan pandangan politik dan juga semangat untuk menciptakan kebersamaan untuk mencapai tujuan. Namun koalisi sekarang ini lebih dominan bicara soal bagi-bagi kekuasaan, ataupun bagi-bagi kursi di kabinet.Kalla punya pandangan sendiri mengenai hal ini. Dia melihat bicara koalisi bukan untuk jatah-jatahan kursi. "Bagi kami koalisi harus punya tujuan yang sama. Kalau kita sama punya tujuan sama, mari koalisi, kalau tidak, ya tidak perlu," kata Kalla menjawab pertanyaan wartawan di kediamannya, di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis (29/7/2004). Secara retorik, pasangan SBY-Kalla dengan tegas siap melakukan koalisi. Tapi kalau mau jujur, secara kerja politik, pasangan ini terlihat lebih banyak menunggu dan boleh dikatakan "malas". Sungguh, beda dengan kubu Mega-Hasyim yang mulai rajin melakukan sejumlah pertemuan dengan tokoh-tokoh politik. Agaknya pasangan ini, masih menganggap koalisi di tingkat elit tidak juga menjadi mesin politik yang bagus untuk meraih suara terbanyak. Mungkin saja pendapat itu benar. Karena kalau dilihat dari kenyataan pemilu 5 Juli lalu, -lepas dari tudingan ada kecurangan atau tidak dalam pemilu lalu- ternyata koalisi Partai Golkar dan PKB tidak juga mampu menggolkan pasangan Wiranto-Wahid di putaran kedua. Kalau mau dihitung dengan perolehan suara PKB dan Golkar pasangan ini seharusnya bisa meraih lebih dari 40 persen suara.Beda antara pernyataan dengan action inilah, yang kelihatannya membuat sejumlah tokoh politik ragu-ragu untuk mendekat ke pasangan yang meraih suara terbanyak ini. Tapi mungkin saja pendapat itu salah, karena belakangan ada issue kalau Amien Rais akan bertemu SBY-Kalla.Tapi soal wacana pertemuan tersebut, Kalla menjawabnya lebih banyak dengan tersenyum. Sulit mengartikan senyuman seorang tokoh politik. "Ya kita lihat besok saja," kata Kalla singkat sambil menebar senyum. Bagi Kalla, semangat yang akan dibangun dalam koalisi nanti adalah semangat kebangsaan. Dan belum bicara soal bagi-bagi berapa persen kursi di kabinet.Kalau mau jujur pemilih Amien Rais bukan lah massa mengambang seperti pemilih di pasangan lainnya. Jika saja, pasangan SBY-Kalla ini mau bekerja keras untuk mendekat kepada Amien, tentunya akan menghasilkan suara yang cukup signifikan. Tapi tentunya, hal itu kembali kepada sikap tegas Amien yang bersikap netral. Sekarang bagaimana caranya pasangan SBY-Kalla ini menarik simpati para pemilih "cerdas" yang mendukung Amien. Mengambangnya sikap Kalla soal koalisi ini, juga terlihat saat ditanya soal koalisi dengan pasangan Wiranto. "Beliau kan saat ini, sedang mengajukan gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Dan dia menggugat soal jumlah perolehan suara," kata Kalla. Tapi jika MK menolak? Kalla ternyata punya pendapat sendiri, kalau dirinya tidak akan berkoalisi dengan Wiranto. "Bicara koalisi tentunya dengan partai. Karena ini menyangkut suara yang ada di legislatif," kata Kalla. Ternyata, kekalahan Wiranto merupakan pil pahit bagi mantan Pangab ini. Setelah "terdepak" dari wacana koalisi Partai Golkar, Wiranto tidak akan dilirik oleh dua pasangan yang akan maju nanti di putaran kedua pilpres. Lagi-lagi soal koalisi dengan Partai Golkar, bagi pasangan SBY-Kalla ini terlihat masih menjadi wacana. "Kita nanti akan bertemu siapa saja. Tapi tentunya dengan tujuan, dan masih dini bicara riil koalisi," kata Kalla. Dan Kalla pun tersenyum ketika menanggapi adanya issue, kalau pasangan "Bersama Kita Bisa" ini menolak koalisi dengan Partai Golkar karena partai berlambang beringin ini meminta jatah 40 persen kursi di kabinet. Agaknya pasangan ini kurang percaya dengan mesin politik yang bernama koalisi.
(mar/)











































