'Pasukan Islam' Akan ke Irak
Kamis, 29 Jul 2004 21:24 WIB
Den Haag - AS sedang merancang 'pasukan Islam' untuk dikirim ke Irak. Sanggupkah langkah ini mengerem perlawanan gerilyawan yang terlanjur anti AS dan kakitangannya?Untuk kepentingan pembentukan 'pasukan Islam' itu, AS menempatkan Arab Saudi di ujung depan. Menlu Colin Powell bahkan langsung ke Jeddah, melakukan pembicaraan dengan pemimpin puncak Saudi. Belum jelas apa nama resmi pasukan, namun pers Barat menyebutnya dengan 'pasukan perdamaian Islam'.Menlu Arab Saudi, Saud al-Faisal, membenarkan mengenai rencana tersebut. Namun mengenai detilnya, ia memilih setali tiga uang dengan Powell untuk tidak mengungkapkannya kepada pers.Bagi AS pembentukan pasukan tersebut sangat penting. Menurut NRC Handelsblad yang mengutip AFP, sedemikian pentingnya sehingga presiden George Bush menyempatkan menelpon Pangeran Mahkota Abdullah untuk mengucapkan terimakasih atas kesediaannya menerima Powell.Sementara itu para diplomat AS mengungkapkan bahwa kedua pihak sesungguhnya telah lama melakukan pembahasan mengenai 'pasukan Islam' tersebut, dengan menempatkan Saudi sebagai pemegang kendali. Dalam pandangan AS, Saudi dapat memanfaatkan pengaruhnya di dunia Arab. Namun mengenai fungsi pasukan semacam itu masih terdapat banyak ketidakjelasan. Kabarnya, pasukan itu hanya akan diberi tugas senetral mungkin, antara lain melindungi pasukan PBB dan menjaga perbatasan.Selain itu, negara-negara Islam juga kemungkinan kurang tertarik untuk mempertaruhkan nyawa anak-anak bangsanya ke Irak. Selama ini, gerilyawan Irak membidik siapa saja yang dipandang sebagai kaki tangan AS, tidak melulu orang kulit putih saja. Pesannya seragam: tinggalkan Irak. Selain Saudi, negara-negara Islam yang disebut potensial mengambil peranan dalam pasukan yang sedang disiapkan itu antara lain: Pakistan, Malaysia, Aljazair, Banglades, Indonesia dan Marokko. Sejauh ini hanya Yordania dan Pakistan yang sudah menunjukkan sinyal positif. Beberapa negara lainnya menginginkan pasukan semacam itu harus melalui persetujuan Liga Arab.AS kini cemas atas semakin banyaknya jumlah negara-negara yang mengundurkan diri dari pasukan koalisi yang dipimpinnya selama menginvasi Irak. Dari jumlah semula 36 negara kini dalam tempo cukup pendek tinggal 31 negara. Pada kunjungannya ke Hongaria awal pekan ini, Powell memperingatkan bahwa jika pasukan koalisi terus mpreteli, maka diktator bisa kembali berkuasa di Irak.Pertanyaannya, apakah peringatan versi AS seperti itu masih dipercaya dan didengar? Manila terbukti tidak hirau dengan 'peringatan' AS. Sekutu AS di Asia Tenggara itu lebih memilih keselamatan warganya dan menarik pulang pasukannya dari Irak.
(es/)











































