Peristiwa itu terjadi di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (7/2/2012). Saat itu, massa yang mengawali unjuk rasa di Terminal Regional Daya, kemudian berorasi di depan kantor perwakilan bus Litha. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba massa pendemo dan karyawan Litha terlibat perang batu.
Meskipun diguyur hujan, aksi perang batu ini tetap berlangsung hingga melebar ke Jalan Urip Sumoharjo, persis di depan Kodam VII Wirabuana. Beberapa karyawan bus Litha terlihat membawa senjata tajam, yang digunakan untuk mengusir para pendemo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai singgah di kantor perwakilan bus Litha, massa kemudian singgah lagi di kantor perwakilan bus Liman di Jalan Urip Sumoharjo. Kemudian, mereka mengakhiri aksinya di Kantor Walikota Makassar di Jalan Ahmad Yani.
Koordinator aksi GPT, Sainal Sikko, yang berorasi menuntut perusahaan bus agar tidak menurunkan atau menjemput penumpang di kantor perwakilannya yang berada di dalam kota. Selain itu, ia juga meminta pemerintah kota Makassar agar menertibkan terminal bayangan di luar Terminal Regional Daya dan menindak angkutan umum liar yang menggunakan plat hitam.
"Kami meminta ketegasan pemerintah kota Makassar agar menyelesaikan masalah-masalah yang menyebabkan Terminal Daya tidak berfungsi maksimal hingga berdampak berkurangnya pendapatan orang-orang yang menggantungkan hidupnya di Terminal Daya," ujar Sainal.
(try/nrl)











































