Ratusan buruh ini memprotes pemberitaan di harian tersebut. Media tersebut dalam beberapa minggu terakhir saban hari melansir soal pelabuhan 'tikus' Pinang Marina yang ada di kota tersebut. Akibat pemberitaan tersebut akhirnya pihak Bea Cukai menutup pelabuhan Pinang Marina.
Kapal-kapal kargo tidak boleh berlabuh di pelabuhan tersebut. Akibat dilarangnya kapal berlabuh, para buruh merasa tidak memiliki perkejaan lagi. Kondisi ini menyulut para buruh kemudian marah kepada harian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelabuhan Pinang Marina memang selama ini memang salah satu tempat pelabuhan kargo yang paling ramai. Para buruh merasa mereka dijadikan permainan karena selama ini para pengelola di pelabuhan juga memberikan upeti kepada pihak terkait.
"Selama ini aparat penegak hukum seperti Bea Cukai, polisi air, bahkan anggota DPRD juga mengetahui kalau pelabuhan itu tidak resmi. Juga banyak oknum yang mendapatkan upeti dari pelabuhan ini," kata salah seorang buruh, Henri, disela-sela demonstrasi di Tanjung Pinang, Kepri, Senin (6/2/2012) sore.
Sementara Ketua RW di lokasi pelabuhan Pinang Marina mendukung aksi demo buruh ini. Menurut dia ratusan buruh pelabuhan menggantungkan hidupnya dari bongkar muat di kapal. Dan selama ini buruh tidak pernah terusik oleh aparat pemerintah karena kondisi pelabuhan ini sudah ada sejak era tahun 80-an.
(cha/van)










































