"Banyaknya pemberitaan negatif mengenai Indonesia menggerakkan PPI Newcastle, Inggris, untuk menunjukkan kepada dunia betapa indah Indonesia sesungguhnya," demikian disampaikan Putri Sari Suci kepada detikcom, Minggu malam atau Senin (6/2/2012) pagi WIB.
Acara Globe Mania diadakan di universitas tersebut pada hari Kamis malam (2/2/2012). Tujuan acara ini adalah untuk mempromosikan persahabatan antar-kebudayaan, merayakan keragaman kebudayaan universitas, serta menggalang dana amal untuk lokal dan internasional.
Dua tarian dan satu penampilan musik dipertunjukkan dengan sangat baik oleh para pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota Newcastle. Penampilan dibuka dengan Tari Saman, sebuah tarian tradisional dari Aceh yang telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang harus dilindungi.
Teman-teman yang tampil semua belajar dari nol, namun rasa cinta dan apresiasi tinggi terhadap kebudayaan Indonesia memotivasi mereka untuk tetap semangat berlatih setiap hari," imbuh Putri, selaku pelatih yang juga menjadi salah satu penari.
Penampilan kedua berupa pertunjukan angklung, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Dengan konduktor Yandri Krisanto, tim PPI Newcastle membawakan dua lagu, yakni Manuk Dadali (Sunda), dan We are the World (Michael Jackson).
Penampilan para pelajar Indonesia malam hari itu ditutup dengan Tari Ngibing, sebuah tarian tradisional Betawi yang menggambarkan keseharian masyarakat Indonesia yang ceria. Ketiga pertunjukan mendapat sambutan meriah dari para penonton.
Selain Indonesia, Globe Mania juga dimeriahkan oleh DJ Tarek Al Assar, Tari Sevilla oleh pelajar Spanyol, serta Tari Attan yakni tarian tradisional Afghan oleh para pelajar Pastun.
Ketua PPI Newcastle, Gian Gunawan, mengungkapkan kebanggaannya terhadap antusiasme para pelajar Indonesia yang terlibat pada acara itu. Saya sangat senang karena teman-teman di sini tetap cinta tanah air dan bersemangat dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia," ujar Gian.
Tanggapan publik yang berhasil diwawancarai seusai acara juga sangat menggembirakan. Mereka umumnya mengatakan sangat menikmati penampilan yang disuguhkan malam itu dan terpukau oleh kekayaan budaya Indonesia.
Seorang penonton asal Prancis bahkan menyayangkan kurangnya promosi mengenai Indonesia, karena menurutnya kebudayaan Indonesia menarik dan patut diakui dunia.
Sebagian besar dari pengunjung yang hadir memang tidak terlalu mengenal Indonesia, namun mereka menyatakan keinginannya untuk berkunjung suatu hari, terutama setelah menyaksikan penampilan dari para pelajar Indonesia malam itu.
Chris Middleton, seorang dosen Northumbria University, mengaku tidak terpengaruh oleh pemberitaan negatif mengenai Indonesia dan tetap menganggap Indonesia mengagumkan dengan ragam budayanya.
(es/es)











































