Darah Warga Buyat Mengandung Merkuri di Atas Batas Normal
Kamis, 29 Jul 2004 14:45 WIB
Jakarta - Darah empat warga Teluk Buyat, Minahasa Selatan, Sulut positif mengandung merkuri di atas batas normal. Dengan begitu pencemaran merkuri diduga telah terjadi. Namun warga belum bisa dikategorikan menderita penyakit minamata.Demikian hasil pemeriksaan Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan (Puska RKL) MIPA UI terhadap sampel darah 4 warga Buyat, yang mengadukan pencemaran di teluk Buyat oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR) ke Mabes Polri. Empat warga Buyat yang diperiksa darahnya yakni Rasyid Rahmad, Juhria Latubane, Masna Stirman dan Srifika Modeong.Hasil pemeriksaan disampaikan Kepala Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan MIPA UI dr. Rer. Nat. Budiawan dalam siaran persnya yang dibagikan LBH Kesehatan kepada wartawan di RS MMC, Kuningan, Jakarta, Kamis (29/7/2004).Hasil pemeriksaan contoh darah yang diambil dari Srifika Modeong (1,9 bulan) diketahui darahnya mengandung merkuri sebanyak 9,51 mikrogram (mg) perliter. Kemudian Juhria Latubane mengandung 22,50 mg perliter, Masna Stirman 14,90 mg dan Rasyid Rahmad 23,90 mg."Dari hasil yang diperoleh kadar merkuri total yang terdeteksi pada sampel darah dari 4 warga buyat tersebut telah melebihi batas normal rata-rata 8 mikro gram perliter," kata Budiawan dalam siaran persnya.Namun dari data tersebut diketahui kandungan merkuri warga buyat belum mencapai dosis efek yang dapat menimbulkan gejala penyakit minamata. Berdasarkan Internasional Program on Chemical Safety (IPCS)/WHO 1990, nilai ambang batas terjadinya gejala minamata pada tubuh manusia akibat paparan total merkuri adalah 200-500 mikrogram perliter. Dari pemeriksaan itu Puska RKL MIPA UI menyimpulkan, pertama, gejala yang diderita keempat warga Buyat bukan merupakan penyakit minamata karena dosis efektif belum tercapai dan dibuktikan tidak adanya tremor (getaran/kejang).Kedua, diduga adanya kemungkinan terjadinya pencemaran merkuri, dibuktikan dengan kadar merkuri dalam sample darah yang melebihi batas normal.Dengan kesimpulan itu, Puska RKL UI menytakan perlu kajian yang lebih mendalam terhadap sumber pencemaran merkuri serta kemungkinan senyawa lain yang berbahaya sebagai penyebab penyakit penduduk Buyat. Senyawa lain itu yakni arsen, sianida, tembaga dan lainnya khususnya yang terdapat di dalam ikan dan sumber air minum yang setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat.Puska RKL MIPA UI juga menyarankan selain dilakukan pengobatan terhadap penderita, perlu diteliti lebih lanjut efek benjolan yang diderita warga. Benjolan itu perlu diteliti apakah disebabkan gangguan sistem hormon atau berupa penyakit tumor sehingga dapat memastikan apakah disebabkan bahan kimia atau bahan lainnya.
(iy/)











































