"Kasus Wisma Atlet betul-betul mencoreng muka Partai Demokrat yang dalam kampanye pemilu lalu mengusung tema pemberantasan korupsi. Bila Demokrat tak berhasil ke luar dari krisis ini saya melihat tak mudah bagi Demokrat untuk kembali memenangi Pemilu 2014," ujar pengamat politik Charta Politika Indonesia Arya Fernandes kepada detikcom, Minggu (5/2/2012).
Mengapa tak mudah bagi Demokrat untuk kembali menang di 2014, Menurut Arya ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya, gagalnya konsolidasi partai di tingkat elit, rendahnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah, dan tidak adanya figur kuat partai setelah SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat yang sama, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan terus mengalami penurunan. Sebagai partai penguasa, survival Demokrat pada 2014 juga ditentukan seberapa puas masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
"Masyarakat akan memberikan apresiasi bila pemerintah berhasil, sebaliknya akan memberi hukuman bila pemerintah gagal," tutur Arya.
Menurut Arya, tidak adanya figur kuat di internal Demokrat setelah SBY tak bisa lagi menjadi capres juga menjadi catatan tersendiri. Kemenangan Demokrat pada pilpres 2004 dan 2009 bertumpu pada figur partai yang kuat.
"Bila tidak ada figur yang dapat menjadi perekat partai dan diterima pada skala nasional, saya tak yakin Demokrat bisa kembali berjaya. Susah bagi Demokrat mengandalkan jaringan partai, kekuatan elit partai tidak tersebar merata, mobilisasi dan kaderisasi partai juga belum sepenuhnya berhasil dilakukan," tutup Arya.
(mpr/ahy)










































