"Itu sama saja tindakan bunuh diri, nyawa penumpang juga terancam," ujar Presiden Asosiasi Pilot Garuda Kapten Stephanus G Setitit kepada detikcom, Jumat (5/2/2012).
Stephanus mengaku menyesalkan dan menyayangkan perilaku pilot yang menggunakan narkoba saat akan bertugas. Menurutnya kasus narkoba yang menjera pilot maskapai di Indonesia harus ditangani serius oleh pihak yang berwenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stephanus mengakui bahwa jadwal terbang yang padat membuat para pilot tidak memiliki waktu banyak untuk berolahraga. Namun hal itu kembali kepada diri sendiri untuk tetap bisa menjaga kesehatan agar tetap tetap fit dalam bertugas.
"Untuk mempertahankan kesehatan, jangan tergantung obat-obatan. Kalau vitamin boleh lah," ungkapnya.
Sementara itu Humas Serikat Pekerja Garuda Tomy Tampatty yakin bahwa ditempatnya bekerja tidak ada yang menggunakan narkoba. Menurutnya kesadaran akan bahaya narkoba dikalangan karyawan cukup tinggi.
"Saya yakin tidak ada. Karena kita cukup ketat aturan yang ada di internal dan kesadaran pilot Garuda sangat tinggi terhadap keselamatan penerbangan," tegasnya.
Tomy mengaku bahwa pengawasan internal di perusahannya cukup ketat terkait penggunaan narkoba. Setiap karyawan rutin melakukan cek kesehatan minimal 6 bulan sekali/
"Di internal kita ada instrumen untuk kontrol itu, dari dinas pelayanan kesehatan Kemenhub. Setiap karyawan rutin mengecek urine," paparnya.
Pilot Lion Air SS ditangkap di Hotel Garden Palace kamar 2019 pada pukul 03.30 WIB, Sabtu (4/2), dengan barang bukti 0,04 gram dan alat hisap sabu. SS rencananya akan menerbangkan pesawat pada pukul 06.00 WIB dengan tujuan Surabaya-Makassar-Balikpapan-Surabaya.
Saat ditangkap di kamar itu bersama SS ada 3 temannya. Mereka tengah bermain kartu. Hasil pemeriksaan urine hanya SS yang positif mengkonsumsi sabu, 3 temannya yang lain negatif.
(mpr/ahy)










































