"Secara prespektif publik, Harley itu kan harganya mahal dan barang ekslusif. Hal itu tentu kurang baik bagi Polri," ujar anggota Kompolnas Novel Ali kepada detikcom, Sabtu (4/2/2012).
Novel mengatakan, memiliki hobi barang mahal memang tidak melanggar aturan dalam kepolisian. Hanya saja, menurutnya, hobi mahal tersebut bisa menjauhkan Polri dari kesan sederhana dan dekat dengan masyarakat kelas bawah.
"Tidak ada yang melanggar aturan, tapi resiko sosialnya adalam mejauhi masyarakat kelas bawah dan dekat dengan masyarakat kelas atas," ungkapnya.
Selain menjabat sebagai Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI), Nanan juga sebagai Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Ketua Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin). Novel berharap Nanan bisa memanfaatkan jabatannya tersebut untuk hal-hal yang positif.
"Manfaatkan jabatan yang positif. Misalnya ngga balapan liar dijalanan dan menekan peredaran senjata api ilegal," tegasnya.
Komisi III DPR sempat mempertanyakan jabatan-jabatan Wakapolri Komjen Nanan Soekarna di luar tugas kepolisian. Nanan mengaku jabatan diluar kepolisian yang diembannya itu mendapat restu dari Kapolri.
"Semua itu seizin Kapolri," kata Nanan di sela Rapat Kerja DPR dan Kapolri, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/2).
Nanan menampik dua kegiatan yang diikutinya itu tidak berkaitan dengan tugas kepolisian. Misalnya soal senjata yang erat kaitannya dengan penertiban senjata dan otomotif yang berkaitan dengan budaya berlalu-lintas. Di dunia otomotif, Nanan berkeinginan untuk mensinergikan dengan tugas kepolisian. Dia mencontohkan aksi balap liar yang marak di jalanan.
(mpr/ahy)











































