Hydrocephalus adalah kelainan bawaan yang biasanya terjadi pada bayi dengan ditandai membesarnya kepala melebih ukuran normal. Jika dibiarkan maka dapat mengakibatkan kerusakan otak yang permanen.
Sedangkan sindrom down merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3. Kelainan ini berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu dipikirnya Annisa ini agak telat, tapi kok sampai 10 bulan dia nggak bisa apa-apa. Nggak bisa bangun. Setelah ke dokter baru tahu dia kena Down Syndrome," terang ibunda Annisa, Fitri Febriyanti, kepada detikcom, Kamis (2/2/2012).
Saat Annisa berumur 8 bulan, ukuran kepalanya tampak le bih besar daripada bayi-bayi seumurnya. Jika sedang menangis, ubun-ubun Annisa tampak melebar. Bengkak dan keras. Pinggir mata Annisa juga melebar dan lembek. Akhirnya orang tuanya sadar, Annisa menderita hydrocephalus.
Orang tua akhirnya membawa Annisa ke RS Fatmawati pada Oktober 2011 lalu. Selama hampir 4 bulan dirawat di sana, Annisa sudah 6 kali menjalani operasi di kepalanya.
"Sudah dipasang grant (semacam keran untuk mengeluarkan cairan otaknya). Sabtu nanti juga rencananya dia mau cuci otak lagi. Besar kepala dia sampai sekarang masih sama," terang Fitri.
Saat dikeluarkan cairan dari dalam kepala Annisa, diperoleh cairan hingga 2 botol air mineral ukuran 500 ml. Cairan itu bahkan sudah dalam bentuk nanah yang artinya ada infeksi parah di kepala bocah itu.
Biaya operasi pengeluaran cairan di kepala Annisa itu setidaknya memakan biaya sekitar Rp 30 juta. Untungnya sang ibu memegang kartu Jamkesda. Sehingga keluarga hanya perlu membayar Rp 3 juta.
"Sekarang saya pakai kartu Jamkesmas. Biaya operasi memang ditanggung Jamkesmas, tapi masih ada obat yang harus ditebus sendiri," ucap Fitri.
Dia kebingungan bagaimana harus menyambung hidup dan menebus uang obat. Harga obat bervariasi, ada yang puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Dulu dia masih bisa berjualan kue, namun kini hari-harinya hanya untuk Annisa. Untunglah dia mendapat bantuan dari Yayasan Portal Infaq.
Yang membuat Fitri sedih, Annisa saat ini tidak lagi merespons ucapannya. Gadis kecil itu tidak lagi menangis rewel seperti dulu. Bahkan jika dipanggil, Annisa cuek seolah tak mendengar.
"Ayahnya cuma seminggu awal menemani di sini, sekarang nggak lagi. Saya sudah pisah, sudah talak sama dia. Saya sering kasih dia kabar, tapi dia nggak juga jenguk Annisa di sini," sambung Fitri pilu.
Ayah Annisa adalah sopir angkot di Bogor. Selain Annisa, perempuan 37 tahun itu memiliki 4 anak lainnya. Karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, hanya satu anak saja yang bersekolah di kelas 4 SD.
"3 Anak saya ikut adik saya, satu lagi ikut ayahnya. Kadang-kadang anak-anak ke RS ini, tapi nggak bisa sering-sering karena mereka kan di Bogor," jelas Fitri.
Annisa kini tergolek lemah di ruang kamar Inap Teratai 303 lantai 3, RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Dia membutuhkan uluran tangan Anda, pembaca detikcom. Jika Anda berniat membantu Annisa, bisa melalui rekening Ibunda Annisa di Bank DKI dengan nomor rekening 10120162990 atas nama Fitri Febriyanti.
Anda juga bisa mentransfer dana bantuan ke rekening Portalinfaq di:Β
Bank BCA Cab. Arteri Pondok Indah No Rek. 291-307-0003
Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No. Rek. 003-006-7066
Bank Mandiri Cab. Kuningan No Rek. 124-000-107-9798. Semua atas nama Portal Infaq. Konfirmasi transfer bisa dilakukan di nomor 021-72786073.
(vit/gah)