Dipukul Seniornya, Taruna SMK Pelayaran Semarang Masuk RS

Dipukul Seniornya, Taruna SMK Pelayaran Semarang Masuk RS

- detikNews
Rabu, 28 Jul 2004 20:03 WIB
Semarang - Insiden kekerasan fisik di lingkungan sekolah terjadi di Semarang. Gara-gara tak melapor saat absen, seorang taruna Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelayaran Semarang Muhlisin dipukul oleh seniornya. Taruna semester III ini pun dilarikan ke rumah sakit.Kejadian itu bermula ketika Muhlisin masuk sekolah. Sebelum masuk kelas ia dihadang oleh seniornya, Arif Kurniawan. Oleh Arif, ia diinterogasi kenapa kemarin tak masuk sekolah tanpa kabar. Tidak puas dengan jawaban Muhlisin, Arif mengoper Muhlisin ke Susanto.Susanto, taruna semester V ini, memukul perut Muhlisin sebagai hukuman. Sayangnya, pukulan itu mengakibatkan kejadian fatal. Muhlisin pingsan. Kemudian, pihak sekolah melarikannya ke RS Bhayangkara. Setelah dinyatakan sehat, hari itu juga ia diperkenankan pulang. Kejadian berlanjut ketika salah satu guru Supriyadi melaporkan kasus itu ke polisi."Saya memukul perut Muhlisin dengan sewajarnya. Dia saya suruh berdiri tegak dalam posisi istirahat dan ketika perutnya sudah siap, saya baru memukulnya. Hukuman seperti itu sudah biasa," katanya di Polsek Sidodadi Semarang Timur, Jl. Kanguru, Rabu (28/07/2004).Susanto menduga pukulannya mengenai ulu hati Muhlisin. Ia tak bermaksud demikian. Pasalnya, aturan sekolah memang mengharuskan senior menghukum adik tingkatnya jika ketahuan membuat kesalahan.Terpisah, Muhlisin mengatakan sebetulnya dirinya agak sakit. Tapi ia nekat masuk karena sehari sebelumnya ia sudah absen. "Perut saya kena maag. Waktu dipukul senior tadi, sakitnya tambah. Sekarang juga masih sakit," katanya ketika ditemui di kosnya, Jl. Beruang Raya I Semarang.Mengenai absen sehari sebelumnya, ia mengaku tak ada teman yang bisa mengantar surat ijinnya. Karena itu, pihak sekolah tidak tahu kalau dirinya sakit. Mereka menduga dirinya membolos.Pukul-memukul, BiasaBaik Susanto maupun Muhlisin mengaku pukul-memukul di dalam sekolah sudah biasa. Tak hanya pada saat penerimaan taruna baru, tapi juga pada hari-hari biasa. "Ada juga senior yang meumukul kepala. Tapi nggak semua," tutur Susanto.Dikatakan Susanto, meski secara formal hukuman fisik ditiadakan beberapa tahun lalu, tapi nyatanya banyak senior yang melakukannya. Termasuk dirinya. Setiap kali ada yunior yang salah sedikit langsung dihukum. Entah push up, lari, atau dipukul.Muhlisin menambahkan dirinya sering kali dipukul seniornya. Oleh Susanto, ia mengaku pernah dipukul 4 kali. Sedangkan, oleh senior lain jumlahnya tak terhitung. "Karena sudah biasa, saya merasa itu sudah menjadi semacam aturan dalam sekolah," katanya.Sementara pihak sekolah tak bisa dikonfirmasi soal ini. Beberapa wartawan yang datang ke sekolah di Jl. Beruang Raya hanya menemukan kelas-kelas kosong. Tak ada satu pun orang yang terlihat di sekolah itu. (nrl/)


Berita Terkait