"Saya pernah diletakkan sebagai Pemangku Perdana Menteri, yang tertinggi di negara dengan bintang gemerlapan terselit di dada," kata Anwar dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (30/01/2012).
Dijelaskan Anwar, pada saat itu tidak ada makanan yang tidak enak yang dia makan lantaran tinggal di istana. Soal pemberian nama makan kala di istana lebih akrab ditelinganya 'santapan' daripada 'makanan'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari bintang gemerlap, ditelanjang bulat," ungkap Anwar.
Kendatipun demikian, Anwar tetap bersyukur dengan mengambil hikmah dari apa yang telah menimpanya. Sekaligus menjadikan pengalaman itu sebagai dasar dalam bertindak.
"Maknanya kita bukan saja bicara soal derita, bukan saja bicara soal kemiskinan, bukan saja kita bicara soal kebebasan dan ketidakadilan. Kita telah merasakan. Dan merasakan itu harus mengajak kita supaya jangan sampai ada satu orang pun rakyat yang paling miskin terbiar atau terpinggir yang merasakan derita yang telah kita rasakan," tandas Anwar.
(did/did)










































