Bagaimana tidak, begitu keluar dari rumah, warga Jakarta sudah bertemu dengan kondisi yang memancing stress dan marah, yaitu kemacetan. Ditambah lagi, masalah banjir dan jalan rusak yang timbul ketika memasuki musim penghujan, dan banyaknya pemukiman kumuh yang belum tertata.
Warga ibukota tentu punya harapan besar pada pemerintah untuk menyelesaikan ini. Sayang, pemerintah daerah sendiri tampaknya hampir kesulitan membenahi itu secara bersamaan.
"Jakarta itu tidak pernah dijaga untuk tidak sakit," kisah Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, saat berkunjung ke kantor detikcom, di Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (27/1/2012).
Meski berhadapan dengan kondisi yang kadung kacau seperti ini, Fauzi mengaku tetap mencoba berbagai cara untuk melakukan perbaikan. Namun, ia tak menampik, jika tahapan yang dilakukannya itu tentu tetap menuai kritik dari masyarakat.
"Kesusahan ibukota semua juga tahu, tapi tetap saja yang dikemplang gubernur nya," kelakar pria yang akrab disapa Foke ini.
Dengan kondisi Jakarta dan berbagai permasalahannya, lanjut Foke, dibutuhkan orang-orang yang tak sederhana untuk memimpin daerah seperti ini. Menurutnya, catatan penting yang harus dimiliki pemimpin Jakarta adalah tidak mempunyai riwayat sakit jantung.
"Kita ini ditakdirkan macem-macem, nah seperti main wayang terkadang ada peran yang harus dilakoni satu orang itu saja. Kondisi itu tentu mau tidak mau menjadi tanggungjawab gubernur, harus siap dimaki-maki orang. Makanya sebelum menjadi gubernur Jakarta itu harus diperiksa dulu jantungnya. Siap nggak," candanya lagi.
Di beberapa proyek yang dilakukannya untuk membenahi Jakarta, pemerintah pusat tampak tidak memberikan respon yang besar. Meski demikian, Foke tidak merasa sendiri dan 'diterlantarkan' untuk menjadi Jakarta sebagai kota yang sukses dan memberikan kenyamanan buat 9,6 juta penduduknya.
"Saya nggak pernah merasa sendiri, saya punya teman banyak, termasuk di Kementerian," ungkapnya.
(lia/mpr)











































