Menengok Koalisi Pejalan Kaki (KPK) dan @JalanKaki

Menengok Koalisi Pejalan Kaki (KPK) dan @JalanKaki

- detikNews
Jumat, 27 Jan 2012 16:35 WIB
Menengok Koalisi Pejalan Kaki (KPK) dan @JalanKaki
Jakarta - Butuh secuil kepedulian di Ibukota Jakarta ini untuk menggugah kembali bagaimana berlalu lintas yang benar, menghargai sesama pengguna jalan dan tidak egois, termasuk pada pedestrian. Inilah segelintir warga Ibukota yang peduli pada hak pedestrian, mencoba menularkan kepedulian pada semua warga Ibukota dimulai dari langkah yang kecil.

Tengoklah @JalanKaki , suatu gerakan yang berawal dari media sosial Twitter berakun @jalankaki. Gerakan ini didirikan oleh Glenn Marsalim, seorang pekerja lepas di bidang kreatif bersama pakar tata kota Marco Kusumawijaya pada November 2011 lalu.

Selain menyebarkan mengenai asyiknya berjalan kaki, memberi edukasi tentang jalur khusus pedestrian yang ideal via Twitter, Glenn dan Marco juga menuliskan idenya melalui blog, jalankakijakarta.wordpress.com.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui blog Jalan Kaki Jakarta itu, Glenn dan Marco menyatakan betapa 'iri'-nya mereka dengan Singapura, di mana jalan kaki terasa nyaman, manusiawi dan beradab. Trotoar yang lebar, pohon-pohon di sepanjang jalan serta taman-taman kota yang bisa memanjakan mata membuat pejalan kaki merasa dihargai.

"Ini gerakan yang di dalamnya ada komunitas jalan kaki. Mulai pada November 2011. Baru 2 bulan lebih. Tidak mengira partisipasi dan sambutannya sebaik ini," jelas Glenn Marsalim ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (26/1/2012).

Glenn ingin akun @jalankaki menjadi milik bersama, menjadi tempat berkomunikasi warga Ibukota yang gemar berjalan kaki serta seabrek permasalahannya. Bila ada solusi, sebisa mungkin dilakukan bersama-sama. Permasalahan pemotor yang suka naik trotoar dan dihalau perempuan misterius dalam sebuah video di Youtube misalnya, di-share dan dibahas bersama dalam akun itu.

Salah satu pendukung @jalankaki adalah Ruang Jakarta (Rujak) yang digawangi sejumlah orang baik arsitek maupun pakar tata kota, termasuk Elisa Sutanudjaja. Dari video itu, Elisa memiliki ide untuk mengembalikan trotoar sesuai fungsinya, termasuk menghalau kendaraan bermotor masuk ke trotoar. Dari ide ini akan diwujudkan dalam bentuk aksi, yang diusahakan akan digelar rutin.

"Kita menentukan spot mana yang banyak motornya, misalnya di Kebon Sirih. Kami akan sebarkan form sederhana. Hanya perlu waktu 15 menit tiap pekan, misalnya Jumat saat jam pulang kantor. Kita lakukan dengan cara simpatik," jelas arsitek yang juga pengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (27/1/2012).

Kampanye ini akan dibuat semudah mungkin, sedekat mungkin dengan relawan-relawan yang berniat terlibat. Misalnya, yang berkantor di sekitar Jalan MH Thamrin bisa beraksi di Jalan Kebon Sirih.

Apakah hal yang sama juga akan dilakukan pada pedagang kaki lima? "Kenapa motor dulu, karena motor yang berbahaya. Anda jalan, tiba-tiba bisa ditabrak," jelasnya.

Elisa akan berbagi ide untuk mengajak beraksi mulai dari sosial media. "Iya, awal mulanya yang paling mudah melalui itu (social media)," tutur pemilik akun twitter @elisa_jkt ini.

Kemudian ada pula Koalisi Pejalan Kaki (KPK) yang terbentuk pada tahun 2011 lalu, hasil kegerahan dan kegeraman dari para pengguna transportasi massal baik KRL maupun bus TransJakarta. Tak heran beberapa pegiatnya adalah pegiat KRL Mania, di antaranya adalah Deddy Herlambang dan Anthony Ladjar.

Para pengguna transportasi massal ini memang akrab dengan aktivitas jalan kaki. Mereka merasakan dan melihat bagaimana pejalan kaki sering dizalimi sekalipun sudah berjalan di lajur yang benar, trotoar. Dari inspirasi perempuan misterius yang menghalau pemotor di Semanggi dalam video di Youtube pula, KPK beraksi di kawasan Kota Tua pada saat liburan sekolah Juni-Agustus 2011 lalu.

Di kawasan Kota Tua, menurut Deddy, pelanggaran pemotor terhadap hak pejalan kaki sangat parah. Anthony Ladjar sampai telentang di trotoar untuk menghalangi pemotor yang lewat.

KPK sadar butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubah kebiasaan buruk. Setidaknya aksi KPK itu bisa membantu bahkan menyentil pemerintah untuk mengembalikan fungsi trotoar.

Untuk itu KPK akan beraksi lagi, di trotoar Jalan MH Thamrin, sepanjang kantor BII hingga Hotel Nikko, pada Jumat (3/2) pukul 18.00-19.30 WIB.

"Kita memang ambil pada peak hour pada hari Jumat karena kemungkinan pelanggaran tinggi," ujar Deddy yang bermimpi trotoar di Jakarta, selebar dan senyaman di New York, Hong Kong atau Tokyo.

Upaya @JalanKaki dan KPK ini memang patut dihargai. Segelintir warga Jakarta ini terus berupaya menggugah kepedulian pengguna jalan dengan segenap usaha, baik melalui dunia maya atau nyata. Hayo, siapa hendak turut serta?


(nwk/nrl)


Berita Terkait