Sebelum memulai pidato resminya, Wapres sempat merasa minder. Bukan karena tidak pede berbicara di hadapan ratusan kaum Nahdiyin, tapi karena tidak bisa memberikan banyak joke saat menyampaikan sambutan seperti yang dilakukan Gubernur Jatim Soekarwo dan Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj.
Keduanya memang didaulat memberikan sambutan lebih awal dari Boediono. Saat menyampaikan pidatonya, teks yang dipegang tampak hanya dilihat beberapa kali. Kedua lebih sering menyisipkan candaan yang mengundang tawa para tamu yang hadir termasuk rombongan Wapres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perhelatan Rembug Saudagar NU ini, lanjut Boediono menggelorakan kembali semangat kewirausahaan, dan kemandirian, yang sebetulnya menjadi pondasi sejarah NU berdiri pertama kali. Menurutnya, para ulama Besar NU sudah mempunyai visi yang jauh ke depan yaitu menumbuhkan kelompok wirausahawan yang tangguh agar dapat maju.
"Di pundak saudara-saudara seluruh anggota Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), kini tergantung sebuah tugas sejarah untuk menyalakan kembali semangat Nahdlatut Tujjar. Saya senang melihat semangat ini digelorakan lagi di antara Kaum Nahdliyin," katanya.
Boediono menambahkan, saat ini masih banyak warga Indonesia yang tertinggal tingkat kesejahteraannya. Oleh karena itu diharapkan NU sebagai organisasi kaum muslim terbesar di Indonesia bisa bekerja sama dalam program-program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan.
"Saya melihat bahwa Rembug Nasional ini dapat menghidupkan kembali cita-cita Nahdlatut Tujjar, gerakan untuk memperkuat perekonomian rakyat melalui peningkatan kewirausahaan mereka," tambah pria berkacamata ini.
Boediono pun berharap, kegiatan ini akan memunculkan berbagai gagasan baru dalam dunia kewirausahaan. Apalagi menurutnya, NU punya modal dasar untuk mengembangkan ini semua.
"Satu kunci sukses lainnya adalah adanya sikap untuk membuka diri terhadap ide-ide baru, sikap mau belajar dari mereka yang berhasil," pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, KH Said Aqil Siroj juga menyampaikan bahwa kegiatan expo ini menunjukkan kegiatan ekonomi yang bersendikan nilai-nilai kerakyatan punya andil yang besar. Dengan kegiatan ini pula, lanjut Said Aqil, warga nahdliyin berhak dan berkewajiban memperjuangkan kesejahteraan hidupnya.
"Nahdlatut Tujjar didirikan bukan sekadar membangun fondasi perekonomian kaum santri, tapi juga mempertahankan tradisi perdagangan yang sudah ada sejak kolonialisme. Oleh karena itu, spirit Nahdlatut Tujjar yang tak boleh padam," pesannya.
Di penutup pidatonya, Said Aqil berharap, kegiatan yang diikuti oleh 172 peserta ini bisa bersinergi dengan pemerintah untuk menguatkan pertahanan ekonomi Indonesia.
"Sudah saatnya NU harus kuat bukan hanya dalam hal moral dan teologi keagamann saja, tapi juga dalam perekonomian, pengetahuan, di semua lini. Sebab bila NU kuat, maka Indonesia selamat," kelakarnya sambil menutup pidato.
(lia/gun)










































