"BNN pinjam urin tersangka AS (Afriyani) dan tiga rekannya. Juga diambil darah dari keempatnya dan hasilnya keluar positif mengandung MDMA yang bahasa pasarannya ekstasi tingkat tinggi," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (26/1/2012).
Rikwanto menjelaskan, ketika kecelakaan terjadi, pemeriksaan tes urin sudah menjadi standar prosedur yang dilakukan pertama kali terhadap pelaku. Sehingga, pada Minggu (22/1) pukul 14.00 WIB, polisi memeriksa tes urin Afriyani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, hasil tes negatif lantaran petugas RS Sukamto hanya memeriksa urin dengan menggunakan 3 reagen yakni morfin, amphetamin dan cannabis. Hasilnya ternyata negatif.
"Berkaitan dengan hasil itu, kita kurang yakin apa ada unsur lain dalam tubuhnya yang mengakibatkan dia lost conrtrol karena ditandai tanpa ada jejak rem, kenyataannya rem tidak blong dan korbannya banyak sehingga dilakukan tes urin kedua kalinya," paparnya.
Tes urin kedua dilakukan di Bidokkes Polda Metro Jaya pukul 14.38 WIB. Dengan mengambil kembali sampel urin Afriyani dengan 4 reagen yakni metamfetamin, amfetamin, morfin dan cannabis.
"Hasilnya positif metamfetamin. Yang tiga item lainnya negatif," katanya.
Melihat hasil tes urin Afriyani yang ternyata positif mengandung zat metamfetamin, polisi mencurigai teman-teman Afriyani juga sama-sama terpengaruh narkotika. Sehingga, petugas Bidokkes mengambil sampel urin ketiga teman Afriyani dengan menggunakan 4 reagen.
"Ternyata teman-temannya juga positif mengandung metamfetamin. Ditambah satu temannya, AS (Arisendi) positif cannabis, sehingga ini menunjukkan ada metamfetamin dan cannabis (pada Arisendi)," ia menguraikan.
Hasil pemeriksaan urin juga dikuatkan dengan pemeriksaan BAP bahwasa mereka di telah mengkonsumsi eksatsi di Stadium. Pengakuan para tersangka, mereka mengkonsumsi 4 butir ekstasi dibagi empat yang dibeli di parkiran Stadium dengan harga Rp 200 ribu per butir.
"Keterangan AS (Arisendi) dia jelaskan sewaktu di klub malam dia juga menghisap ganja. Keterangan yang diberikandan hasil uji urin tunjukkan hal yang sama," katanya.
"Jadi dengan ini, tidak ada lagi simpang siur soal tes urin," ia menambahkan.
Sebelum mengkonsumsi narkotika, Afriyani cs menenggak minuman keras di salah satu kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. "Setelah itu meluncur ke diskotik, di situ lah dia mengkonsumsi ekstasi," katanya.
Rikwanto mengatakan, akumulasi kegiatan yang dilakukan mereka lakukan mulai dari menghadiri resepsi pernikahan temannya di Hotel Borobudur kemudian berlanjut ke kafe di Kemang hingga akhirnya ke diskotik, membuat kondisi Afriyani ngedrop.
"Pukul 20.00 WIB mereka kunjungi rekannya, kemudian minum miras sampai pukuk 01.30 WIB, kemudian di diskotik sampai pagi bisa dibayangkan kondisinya drop dan lost kontrol," ia memungkaskan.
Pengaruh narkotika diduga kuat yang menyebabkan Afriyani kehilangan kendali saat mengemudikan Daihatsu Xenia bernopol B 2479 XI hingga akhirnya menabrak 12 pejalan kaki, 9 orang di antaranya tewas dan tiga lainnya luka-luka.
(mei/nal)











































