"Paripurna ini harus terbuka, masyarakat harus tahu dan tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, semua harus transparan. Setelah saya terima undangan kemarin, betapa terkejut saya tidak diberi kesempatan, minimal minta maaf pada masyarakat," kata Prijanto di Rapat Paripurna di Gedung DPRD, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2012).
Prijanto kemudian membandingkan pengunduran dirinya dengan pengunduran diri Wakil Bupati Garut Diky Candra. Menurutnya, Diky diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato sebelum fraksi-fraksi memberikan pendapatnya.
"Garut itu kan Indonesia, Jakarta juga Indonesia yang dipimpin SBY. Pada rapat Diky diberi kesempatan kenapa saya tidak?" protes purnawirawan jenderal bintang dua ini.
Prijanto ingin diberi kesempatan memberikan alasan agar fraksi-fraksi jelas menanggapi pengunduran dirinya. "Masyarakat sangat menunggu penjelasan dari saya," alasan Prijanto.
Pengunduran diri Prijanto dalam rapat paripurna hari ini batal dibahas. Hal ini disebabkan tak ada anggota Fraksi Demokrat DPRD DKI Jakarta yang hadir dalam rapat tersebut sehingga rapat tidak mencapai kuorum. Beredar isu bahwa pembahasan pengunduran diri Prijanto sengaja diulur-ulur untuk alasan politis menyusul Pemilukada DKI Jakarta 2012.
Prijanto menyatakan mundur pada Desember 2011. Di dalam bukunya bertajuk Andaikan.. Aku atau Anda Gubernur Kepala Daerah, Prijanto banyak mengupas hubungannya dengan Fauzi Bowo. Bahkan dia menyebut slogan Fauzi Bowo "Serahkan pada ahlinya" beraroma kesombongan.
(nal/nrl)











































