Negeri mungil itu rela bersusah payah mengejar seorang diplomat yang menabrak pedestrian pada 2009 hingga ke negeri asalnya, Rumania. Butuh kesabaran dan waktu lama untuk mendudukkan diplomat yang kini telah nonaktif itu, Silviu Ionescu, ke pengadilan.
Peristiwa tabrak-lari itu terjadi pada 15 Desember 2009 di Bukit Panjang, pinggiran Singapura. Mobil penabrak adalah Audi A6 warna hitam berpelat nomor diplomatik, yang kemudian diidentifikasi dikendarai oleh Dr Silviu Ionescu. Saat itu Ionescu menjadi Kuasa Usaha ad interim Kedubes Rumania di Singapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aparat Singapura lantas menyelidiki insiden ini. Sidang koroner di Singapura pada awal Maret 2010 menyimpulkan bahwa mobil Audi itu tidak dimaling dan dikemudikan oleh Ionescu pada saat kecelakaan. Ionescu, yang meninggalkan Singapura 3 hari setelah kecelakaan, menolak kembali ke Singapura untuk mengikuti proses hukum.
Otoritas Singapura menggunakan aturan diplomatik untuk memintai keterangan sopir Ionescu. Pemeriksaan pada sopir ini perlu, karena Ionescu dalam laporan kehilangan mobilnya, mengaku dia menyuruh sopirnya berkeliling naik mobil untuk mencari mobil Audi A6 itu. Sementara itu, pemerintah Rumania menolak permintaan Singapura untuk mengekstradisi Ionescu.
Kemlu Rumania menarik diri dari kasus itu setelah membebaskan jabatan Ionescu di Singapura pada 5 Januari 2010. Otoritas Rumania menyelidiki kasus ini pada 6 Januari 2010. Kemlu menyebut, apa pun yang dikatakan Ionescu menjadi tanggungannya sebagai warga negara pada umumnya. Kemlu juga menonaktifkan Ionescu setelah jaksa menuntutnya dengan pasal 'pembunuhan, membuat orang terluka dan laporan yang salah" pada 2 Februari 2010.
Sejak penyelidikan koroner dilakukan, sebuah "komite teknis bersama" telah dibentuk antara Singapura dan Rumania, yang bertujuan untuk mengejar tindakan hukum terhadap Ionescu. Singapura menjerat Ionescu dengan 13 tuduhan dan menerbitkan surat penangkapan kepadanya.
Pada waktu yang sama, Interpol mengeluarkan red notice untuk Ionescu untuk "kejahatan terhadap kehidupan dan kesehatan". Pemerintah Rumania menyita properti di Bucharest milik Ionescu pada tanggal 3 Februari 2010 dengan tujuan "memenuhi tuntutan pihak sipil".
Kasus kecelakaan yang berimbas pada hubungan diplomatik kedua negara ini sempat memicu kemarahan publik Singapura. Hal ini karena pemerintah Singapura tidak berhasil membawa Ionescu kembali ke Singapura dengan alasan kekebalan diplomatik dan kedua negara tidak memiliki perjanjian ekstradisi. Kemarahan serupa juga terjadi di Malaysia, karena korban tewas merupakan warga Malaysia. Keluarga almarhum berusaha meminta bantuan pemerintah Malaysia namun ditolak dengan alasan masalah itu merupakan urusan internal antara Singapura dan Rumania.
Hingga kini, persidangan pada Ionescu di Bucharest masih berjalan. Channel News Asia pada 20 Januari 2012 melaporkan, hakim memutuskan menunda sidang hingga 1 Februari 2012. Penundaan terjadi karena petugas pengadilan tidak bisa membuka file video yang dikirimkan oleh Singapura. File video itu berisi testimoni para saksi. Utusan khusus Singapura untuk Rumania, Anil Kumar Nayar, menghadiri sidang itu. Berkaca dari usaha keras negara tetangga, polisi kita sudah sewajarnya memberikan keadilan pada jiwa-jiwa yang terenggut dalam insiden di Tugu Tani 22 Januari 2012 itu.
(nrl/vit)











































