"Saatnya perang semesta terhadap peredaran narkoba dan miras. Negara jangan kalah sama cukong, bandar, dan mafia narkoba," kata Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam dalam pernyataan yang diterima detikcom, Selasa (24/1/2012).
Pria yang akrab disapa Niam ini menjelaskan, efek bahaya narkoba dan miras, bukan hanya bagi pengguna tetapi juga bagi orang lain. Lebih gila lagi, bisa merusak masa depan generasi muda. Pihak berwajib diminta serius memperhatikan hal ini.
"Korban yang paling rentan terhadap dampak peredaran narkoba dan miras adalah anak-anak. Lima dari sembilan korban Xenia maut tersebut adalah anak-anak. Kasus narkoba dan miras lain yang menyebabkan anak menjadi korban seringkali terjadi," jelasnya.
Kasus Afriyani ini, lanjut Niam, harus dijadikan momentum perbaikan yang holistik dan tidak parsial. Caranya, harus ada ketegasan untuk zero toleransi bagi peredaran narkoba, terutama di tempat-tempat hiburan malam.
"Evaluasi terhadap perizinan juga perlu dilakukan, termasuk tegas tidak memberikan akses anak-anak untuk masuk. Aparat jangan takluk sama cukong dan bandar narkoba," tuturnya.
Yang tidak kalah pentingnya, fasilitas umum bagi pejalan kaki harus aman dan nyaman. "Saat ini pelebaran jalan sering kali tidak ramah bagi pejalan kaki, khususnya anak-anak. Dishub, PU juga harus bertanggung jawab untuk penyediaan fasum yang ramah anak," jelasnya.
Seperti diberitakan, Afriyani sempat dugem di sejumlah tempat sebelum menabrak 9 pedestrian pada Minggu (22/1/2012) di Tugu Tani sekitar pukul 11.00 WIB. Afriyani menenggak wiski dan narkoba.
(ndr/nrl)











































