"Jika dibiarkan terus seperti itu, tanpa penanda kapal tenggelam, Maruta Jaya bisa menjadi predator bagi kapal lain," kata mantan nahkoda Kapal Maruta Jaya, Kapten Gita Ardjakusuma, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (22/1/2012).
Predator yang dimaksud Gita adalah kemungkinan Maruta Jaya tertabrak oleh kapal lain yang tidak melihat keberadaan kapal itu saat malam hari. Selain itu, ketika seluruh badan kapal sudah tenggelam, sangat mungkin ada kapal yang lego jangkar di badan kapal Maruta Jaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Gita, dengan kondisi kapal Maruta Jaya saat ini, paling tidak ada empat hal yang harus menjadi perhatian pihak yang berwenang, yaitu:
1. Penanda lokasi kapal tenggelam.
2. Pemberitahuan dalam bentuk berita tertulis kepada para pelaut tentang lokasi kapal tenggelam.
3. Antisipasi pencemaran air laut oleh minyak yang ada di Kapal Maruta Jaya.
4. Kemungkinan bagian-bagian kapal itu dicuri, baik pada bagian permesinan ataupun bagian lain.
"Waktu saya ke sana, saya lihat itu ada kapal-kapal kecil yang sepertinya memancing di dekat lokasi kapal tenggelam. Itu kan perlu diawasi, apakah benar memancing?" jelas pria yang juga pernah menahkodai Kapal Phinisi Nusantara ini.
Ia mengingatkan pencurian bagian kapal yang pernah dialami Kapal Phinisi Nusantara ketika kapal tersebut tenggelam pada tahun 2002. Gita berharap agar kejadian tersebut tidak dialami oleh Maruta Jaya.
Gita Ardjakusuma adalah Kapten Kapal Phinisi Nusantara saat mengarungi Samudera Pasifik menuju Vancouver, Amerika. Pelayaran itu disebut-sebut sebagai pelayaran yang membuat maritim Indonesia diakui dunia Internasional.
Ia pernah menjadi kapten kapal Maruta Jaya dari tahun 2002 saat kapal tersebut masih dioperasikan perusahaan pelayaran PT Admiral Lines hingga dikembalikan kepada BPPT pada Mei 2012.
Sebelum Kapal Maruta Jaya tenggelam, Gita pernah bercita-cita untuk menjadikan kapal tersebut sebagai kapal latih bagi pemuda sipil Indonesia. Namun, saat cita-citanya hampir terwujud, Kapal Maruta Jaya tenggelam di Pelabuhan Tanjung Priok pada Minggu (8/1/2012).
"Padahal Seskemenko Kesra sudah mengiyakan pembiayaan operasional kapal ini untuk menjadi kapal latih," tuturnya penuh sesal.
(nwk/nvt)











































