PBB: RI Mampu Kurangi Kematian Anak Hingga 2/3 pada 2015
Selasa, 27 Jul 2004 17:06 WIB
Jakarta - Duta Besar Khusus PBB untuk Millenium Development Goals (MDG) di Asia Pasifik, Erna Witoelar, menilai Indonesia mampu mengurangi jumlah kematian anak sebanyak 2/3 dalam rentang tahun 1999-2015."Dari 44 negara di Asia Pasifik, 26 negara diperkirakan tidak mampu mencapai target ini pada tahun 2015. Namun Indonesia diperkirakan dapat mendapat target ini," kata Erna dalam diskusi "Millenium Development Goals (MDG)" di Gedung Tifa, Jl.Kuningan Barat, Jakarta, Selasa (27/6/2004). MDG adalah kesepakatan negara-negara anggota PBB dalam konvensi tingkat tinggi PBB pada bulan September 2000.Lebih lanjut Erna menyatakan, selama 4 tahun ini, di Indonesia ada kemajuan berarti dalam pengurangan kemiskinan pendidikan dan penanganan buta huruf, sejak tahun 1990-an. Namun, kemajuan lambat terutama dalam tingkat kematian anak balita dan ibu melahirkan, penanggulagan HIV/AIDS, TBC dan malaria dan perbaikan akses air bersih, sanitasi dan penanggulangan pemukiman kumuh dan rehabilitasi kerusakan lingkungan.Staf ahli Menkes bidang penyehatan lingkungan dan epidemiologi, I Nyoman Kandun dalam kesempatan yang sama menyatakan, pemerintah melalui Depkes telah mencanangkan "Indonesia Sehat 2010". Diharapkan pada tahun itu, Indonesia sehat dengan perilaku yang sehat dan punya akses terhadap fasilitas kesehatan."Dasar-dasar Indonesia sehat adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan yang didukung oleh tenaga profesional, jaminan pelayanan kesehatan dan pelaksanaan desentralisasi. Lima hal inilah yang merupakan pilar untuk pembangunan berwawasan kesehatan," paparnya.Ketua Dewan Eksekutif Koalisi untuk Indonesia Sehat, Firman Lubis, mengharapkan isu kesehatan dijadikan sebagai prioritas oleh pemerintah. "Bagi bangsa Indonesia, masalah kesehatan adalah masalah besar yang kompleks, setiap tahun di Indonesia ada setengah juta penderita tuberkolosis baru. Tahun ini juga, Indonesia didera serangan DBD yang hebat. Setelah ini datang penyakit lain yakni malaria," demikian Firman Lubis.
(nrl/)











































