"Kalau saya diberitahu ada yang penting pasti saya hadir, bagaimana saya hadir kalau seringkali rapatnya bentrok dengan berbagai rapat lain yang harus saya pimpin sendiri," tutur Marzuki kepada detikcom, Minggu (23/1/2012).
Selain itu, menurut Marzuki, rapat-rapat BURT DPR juga sangat padat. Bahan-bahan rapat juga tak pernah diperolehnya, meski ia juga Ketua BURT DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menurutnya wajar jika banyak teman-temannya di BURT yang mengkritisinya. Sehingga menyudutkannya saat ia merasa tak tahu-menahu terkait proyek ruang Banggar DPR Rp 20 miliar.
"Saya seringkali berbeda pendapat dengan beberapa teman BURT, contoh kecil finger print. Saat saya bicara tentang perlunya finger print sebagai bentuk melaksanakan Tatib DPR, saat saya bicara tidak ada yang membantah, namun begitu saya keluar, semua memarahi ibu Sekjen agar itu tidak masuk dalam notulen rapat. Banyak kasus yang lain, nggak baiklah saya buka di forum publik," keluhnya.
(van/anw)











































