Analis politik dari Charta Politika, Arya Fernandez, menilai pernyataan ketua umum Golkar itu bersayap, untuk mengetes siapa saja elite-elite partai yang masih bernafsu mencalonkan diri menjadi capres 2014.
"Ical ingin melihat peta kekuatan internal Golkar, apakah ada faksi-faksi yang tidak loyal. Untuk mengetes loyalitas para elite," kata Arya saat berbincang detikcom, Minggu (22/1/2012).
Arya menilai pernyataan Ical itu justru ingin melihat pergerakan elite-elite Golkar pascakeputusan Rapimnas partai yang sudah mencapreskan pengusaha besar itu. "Ya, kalau ketahuan ada yang tidak loyal bisa diberi peringatan atau bahkan digusur," ujarnya.
Dia melanjutkan, pernyataan Ical itu juga hanya ingin memberi kesan kepada publik bahwa ia bukan pemimpin yang otoriter. Sebab, jika pernyataan itu sungguh-sungguh, ia seharusnya membuka mekanisme konvensi untuk menentukan capres.
"Kalau sungguh-sungguh ya konvensi saja, tapi di Rapimnas lalu kan seolah sudah dikondisikan untuk mendukung Ical seorang, bahkan itu diputuskan secara aklamasi," ujar Arya.
Sebelumnya, Ical mengatakan capres dari Golkar tidaklah harus dirinya. "Saya selalu mengatakan calon dari Golkar adalah putra atau putri terbaik, bisa siapa saja. Tidak harus saya," kata Ical di Gedung DPR, Jakarta, 18 Januari lalu.
Menurut Ical, untuk menentukan siapa putra atau putri terbaik yang akan Golkar usung sebagai bakal capres akan didasarkan pada hasil survey mengenai bakal capres dan cawapres. Maka belum tentu dirinya yang akhirnya menjadi jagoan Golkar untuk Pilpres 2014.
"Kita lihat nanti bagaimana surveinya. Kita lihat apakah masyarakat menghendaki calon dari Golkar untuk menjadi Presiden RI," ujar Ical.
(lrn/ahy)











































