Harga Mahal, Rakyat Papua Merasa Dianaktirikan

Harga Mahal, Rakyat Papua Merasa Dianaktirikan

- detikNews
Jumat, 20 Jan 2012 16:38 WIB
Jakarta - Akses transportasi di Kawasan Pegunungan Tengah Papua belum terbangun sehingga masyarakat harus menggunakan pesawat terbang. Akibatnya, harga-harga kebutuhan bahan pokok melambung berkali lipat. Masyarakat Papua pun merasa dianaktirikan.

"Kami dianiaya bertahun-tahun. Kalau di tempat lain masyarakat beli BBM Rp 5 ribu, di sana mereka beli Rp 50 ribu," ujar Bupati Puncak Jaya, sekaligus Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah, Lukas Enembe.

Hal tersebut dikatakan Lukas mewakili para bupati usai rapat Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lukas menjelaskan, satu-satunya cara membangun Papua adalah membuat akses jalan ke kawasan pegunungan tengah. Dengan adanya akses jalan raya, masyarakat akan bisa mengirim hasil perkebunan dan harga-harga kebutuhan pun akan jauh lebih murah.

"Masyarakat pegunungan tengah itu rajin-rajin bekerja. Sayang sumber daya alam tidak bisa dikirim ke luar wilayah karena susahnya akses," tambah Lukas.

Lukas menambahkan adanya separatis, OPM dan ketidakpuasan rakyat Papua juga timbul karena harga barang yang mahal dan daerah yang masih terisolir. Lukas menilai mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

"Karena terisolir mereka seperti itu. Coba ada akses jalan, pikiran dan wawasan mereka akan terbuka, begitu juga perekonomian," kata Lukas.

Dia juga mengaku dana Otsus Papua yang nilainya mencapai Rp 3 triliun selama ini belum efektif. Tanpa akses jalan, semua bantuan sifatnya hanya temporer belaka.

"Bangun saja akses. Jangan yang lain. Itu dulu fokus satu," harapnya.

(rdf/mok)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini