Sejumlah Unjuk Rasa Berlangsung di Makassar

Sejumlah Unjuk Rasa Berlangsung di Makassar

- detikNews
Selasa, 27 Jul 2004 13:27 WIB
Makassar - Selasa (27/7/2004), sejumlah unjuk rasa terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tuntutannya berbeda-beda. Salah satunya, sekelompok demonstran memperingati kasus 27 Juli 1996. Unjuk rasa yang terjadi di beberapa titik di kota Makassar ini hampir bersamaan. Sejauh pantauan detikcom, unjuk rasa pertama terjadi di kampus UNM (Universitas Negeri Makassar), Jl. Andi Pettarani, Makassar. Pada pukul 10.00 wita, sekitar 30-an mahasiswa menggelar spanduk di tengah jalan. Mereka menuntut agar pemerintah kota segera memberikan ganti materil terhadap warga korban penggusuran di pantai laguna, kelurahan Panambungan, kecamatan Mariso. Karena membentangkan spanduk di tengah jalan, akibatnya kendaraan di jalan tersebut mengalami gangguan. Macet pun tak terhindarkan. Selain itu, para pengunjuk rasa juga mengedarkan kotak sumbangan. Sumbangan ini natinya diberikan kepada warga korban penggusuran. Pada saat yang bersamaan, unjuk rasa juga terjadi di kampus IAIN Alauddin, JL Sultan Alauddin, Makassar. Sekitar 20-an mahasiswa menuntut agar kasus dugaan korupsi di DPRD Sulsel segera diusust tuntas. Aksi ini berlangsung tertib, dan tidak terjadi kemacetan di sepanjang jalan. Sekitar pukul 11.00 wita, aksi unjuk rasa juga terjadi di perempatan tol reformasi, Makassar. Sekitar 50-an mahasiswa yang tergabung dalam Barisan Oposisi Bersatu (BOB) menuntut agar kasus 27 juli 1996 diusut tuntas. Selain itu, mereka juga menolak dua capres yang ada. SBY mereka anggap terlibat dalam kasus 27 juli tersebut. Sementara Mega, dianggap tidak serius mengusut kasus ini. Buktinya, Sutiyoso dan SBY yang dianggap terlibat, malah diberi posisi dalam pemerintahan oleh Megawati. Satu jam berselang, sekitar pukul 12.00 wita, Forum Pemuda Pro Demokrasi (FPPD) mendatangi kantor KPU Sulsel. Mereka menentang ajakan golput yang dipropagandakan oleh pihak pihak tertentu. Menurut mereka ajakan Golput menodai jalannya demokrasi. Golput dianggapnya sebagai pilihan yang tidak gentle. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads