"MA tidak sensitif dengan persoalan bangsa," kata Wakil Ketua YLBHI, Alvon Kurnia, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/1/2012).
Menurut Alvon, permasalahan hukum sangat banyak daripada mengurusi mebel ruang pimpinan tersebut. Seperti bantuan hukum bagi orang miskin atau pelatihan hukum bagi aparat pengadilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, MA selama ini selalu mengeluh buruknya gedung pengadilan yang tersebar di penjuru nusantara. Namun, MA malah mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk beli mebel pimpinan MA.
"Lihat di pengadilan-pengadilan. Banyak kursi dari kayu yang umurnya sudah puluhan tahun. Sudah reyot. Ini masalah prioritas, dan MA tidak bisa membuat prioritas itu," tandas Alvon.
Toh hingga saat ini pimpinan MA sudah mempunyai mebel yang masih layak pakai. Seharusnya membuat prioritas membeli mebel berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan.
"Anggaplah sudah ada mebel pimpinan, alasan apa untuk diganti? Apakah sudah rusak? Jangan mengganti mebel karena mengikuti keinginan dan menuruti mode/ fashion. Kalau belum rusak, jangan diganti. Kalau sudah enggak model dan jadul mungkin saja. Tapi apa itu alasan diganti?," tanya balik Alvon.
Hingga saat ini, Sekjend MA, Nurhadi tidak bisa dihubungi baik lewat telepon atau sms. Begitu juga dengan Jubir MA, Hatta Ali.
(asp/lh)










































