Wajar bila parpol tidak buru-buru menetapkan pasangan bakal calon jagoannya yang berarti juga mitra koalisinya. Sebab koalisi dalam Pilgub DKI Jakarta sedikit banyak akan menggambarkan peta koalisi dalam Pilpres 2014 mendatang.
"Jakarta adalah miniatur Indonesia, situasi politiknya kompleks dan panas. Konstelasi dalam Pilgub DKI Jakarta akan menentukan koalisi Pilpres 2014," ujar peneliti Charta Politika, Yunarto Wijaya, kepada detikcom, Rabu (17/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka bila memang Golkar dan PDIP serius ingin mengungguli PD dalam Pilpres 2014, tidak salah bila keduanya berkoalisi untuk Pilgub DKI Jakarta. Koalisi yang dijalin dalam Pilgub DKI Jakarta bisa menjadi semacam ajang uji coba untuk menghadapi Pilpres 2014, meski terhitung prematur.
"Akan lebih produktif buat 2 partai ini bergabung dibanding menggantungkan kadernya untuk menjadi wakil dari calon yang diajukan PD atau PKS. Atau sekadar berebut menjadi wakil dari incumbent," sambung Yunarto.
Tapi yang menjadi masalah, baik Golkar dan PDIP sama-sama punya pengalaman historis sebagai partai lama yang punya kekuatan besar. Upaya keduanya untuk menjalin kemitraan koalisi pernah digagas Taufiq Kiemas menjelang Pemilu 2004 silam yang terbukti tidak berjalan sesuai harapan.
"Maka yang menarik kemudian memang, bagaimana negosiasi di antara politisi Golkar dengan PDIP untuk menemukan kombinasi siapa yang akan menjadi DKI-1 dan siapa DKI-2," papar Yunarto.
(lh/nrl)











































