Eks Penumpang di Atap KRL: Apa Kerennya Duduk di Atap?

Eks Penumpang di Atap KRL: Apa Kerennya Duduk di Atap?

- detikNews
Selasa, 17 Jan 2012 12:54 WIB
Eks Penumpang di Atap KRL: Apa Kerennya Duduk di Atap?
Jakarta - Sore menjelang malam pada Jumat (13/1) lalu, sekitar 150-an orang penumpang atap KRL berkumpul di Stasiun Kota. Mereka berasal dari berbagai komunitas KRL yang ada di Jakarta.

Tujuan mereka berbondong-bondong ke Stasiun Kota kala itu bukan untuk berdemo. Mereka diundang untuk berdialog bersama PT KAI dalam rangka sosialisasi tentang betapa bahayanya duduk di atas atap Kereta Rel Listrik (KRL).

Pemandangan seperti itu, memang bukan hal yang baru. Puluhan penumpang gelap KRL kelas ekonomi memilih duduk di atas atap karena ruangan dalam kereta juga tak kalah padat. Padahal itu jelas sangat membahayakan keselamatan dan merusak pemandangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di antara yang hadir, ternyata ada yang tidak lagi menjadi penumpang atap. Dia sudah tidak lagi menjadi penghuni gelap atap KRL karena telah sadar akan bahayanya.

"Waktu itu saya sering naik atap KRL kelas ekonomi. Dan waktu itu saya merasa nyaman-nyaman saja, karena belum tahu bahayanya seperti apa," kata pria yang bernama Sam itu.

Suatu hari, lanjut Sam, dia bergabung dalam sebuah komunitas KRL. Di komunitasnya itu dia mendapatkan informasi yang banyak tentang betapa bahayanya duduk di atas atap. Komunitas itu bernama Yayasan Futuhatulaita, yang bermarkas di kawasan Citayam.

"Dari situ saya sadar dan mengingat sayang nyawa dan keluarga. Lagi apa ya, apa kerennya," kisah Sam yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang.

Dia sudah tak lagi melakukan aksi nekatnya itu sejak setahun lalu. Padahal sebelumnya dia sudah terbiasa dengan aksinya itu.

"Saya minta kepada semua pedagang, jangan lagi kita naik di atap. Membahayakan kita. Lagian apa kerennya duduk di atap," nasihatnya pada para penumpang atap yang hadir saat itu.

"Kasihan juga anak dan istri kita kalau terjadi apa-apa," tambahnya.

Meski demikian, pria berusia 30 tahun ini juga meminta ada kompensasi dari PT KAI yang tidak lagi menumpang di atas atap. Yaitu harapan tarif KRL untuk diturunkan.

"Kalau kereta ekonomi dihapus dan kita-kita ini harus beralih ke Commuter Line, kita minta ongkosnya diturunkan. Kalau uang makan sehari Rp 20 ribu, lalu untuk karcis saja habis Rp 12 ribu, masa kita makan Rp 4 ribu. Makanya kita mohon, kita turun dari atap, harga karcis juga turun dong," tandasnya.

Kisah yang sama juga diceritakan oleh mantan penumpang atap KRL bernama Adit. Warga Cilebeut ini sudah tidak lagi naik di atas atap KRL sejak tahun 2010.

"Karena di tahun itu kehidupan saya lebih baik. Saya tahun itu pindah ke kerja dan penghasilannya lebih baik," ceritanya.

Dengan penghasilan yang lebih baik, Adit pun memilih naik KRL Commuter Line yang sudah dilengkapi AC. "Meski kadang jam-jam kerja itu sumpek, tapi kan lebih aman. Asal dapat posisi aman saya rasa nggak apa-apa," tambahnya.

Dia pun mengimbau, kepada para 'fans' atap KRL untuk lebih mengutamakan keselamatan mereka.

"Berhenti naik atap KRL, karena itu berbahaya untuk nyawa kita sendiri," tambahnya.

Sebelumnya, dalam acara yang sama Kadaops PT KAI, Purnomo Radiq, juga berharap penumpang untuk tidak lagi naik di atas atap KRL. Kondisi itu selain membahayakan penumpang dan merusak pemandangan juga memalukan bangsa Indonesia.

"Penumpang atap itu memalukan bangsa! Karena itu tidak patut. Makanya mari kita bersama hilangkan itu," kata Purnomo.

(lia/vit)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini