"Seharusnya Rosa diperiksa lagi dengan mekanisme teleconference sehingga bisa lebih jernih dan terbuka," kata Ketua DPP Partai Demokrat Gede Pasek Suardika melalui telepon kepada detikcom, Selasa(17/1/2011).
Pasek Suardika menegaskan Rosa mendapatkan ancaman pembunuhan sebelum bersaksi, yang menurut pengakuannya diduga dilakukan kerabat Nazaruddin. "Ini ada beban psikologis, belum lagi Nazarudin adalah mantan atasannya," kata Pasek Suardika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan teleconference akan mengikis beban psikologis yang dialami Rosa. Sehingga Rosa bisa bebas menyampaikan apa yang diketahui, dialami dan dilihatnya dalam kasus Wisma Atlet tersebut," kata Pasek Suardika.
Pasek Suardika menilai daripada Rosa harus datang dengan baju anti peluru lebih baik diperiksa lagi lewat teleconference. "Mengenakan baju anti peluru saja sudah memberikan tekanan psikolgis," kata anggota komisi II DPR RI tersebut.
Ia berharap semua pihak yang ingin kasus ini terang benderang sesuai fakta hukum pasti menginginkan hal tersebut. "Hanya mereka yang bermain di gosip politik dengan komoditi kasus hukum sebagai jualannya saja yang tidak mau kasus ini dibuka terang benderang," kata Pasek Suardika.
Dalam kesaksian Senin kemarin, Rosa menyengat sejumlah politisi PD seperti Angelina Sondakh yang meminta Rp 5 miliar, Mirwan Amir (wakil ketua Banggar DPR dari PD) yang disebut Ketua Besar, Andi Mallarangeng yang timsesnya kecipratan Rp 500 juta dan Anas Urbaningrum disebut sebagai pemilik Permai Group. Semua nama yang disebut Rosa telah menyangkal.
(gds/nrl)











































