“Kami akan mendata WNI yang merasa terancam, dan kami akan merapatkannya di Jakarta, insya Allah dalam beberapa hari kami akan dapat mengevakuasinya,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Tatang Razak, ketika bertatap muka dengan WNI di aula kedutaan Besar RI, di Damaskus, Sabtu (14/1), sebagaimana dilaporkan pelajar Indonesia di Damaskus, Najih Ramadhan, yang menghadiri pertemuan itu, Minggu (15/1/2012).
Kepada detikcom, Najih menuturkan, Tatang mengatakan bahwa ada WNI di beberapa kawasan yang sudah harus dievakuasi, dan sebagian lain masih dalam kategori lumayan aman, hingga belum perlu dievakuasi. Cara evakuasi bertahap ini dilakukan untuk menghindari kasus kepanikan seperti yang terjadi di Mesir beberapa bulan yang lalu, dan bukan karena meremehkan situasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, rombongan juga telah mengecek tenda-tenda pengungsian yang rencananya akan digunakan untuk mengungsikan WNI, jika situasi semakin memburuk. Tenda-tenda tersebut berlokasi di pelataran KBRI-Damaskus dan Wisma Duta-Ya’four. Tenda-tenda tersebut, menurutnya sudah bisa untuk menampung sekitar 700 WNI yang membutuhkan.
Mereka juga mengecek persediaan bahan makanan pokok seperti beras, mie instant, minyak sayur, serta lainnya, yang telah disimpan di gudang Wisma Duta. Rencananya hari ini, Tatang dan tim nya akan bertemu dengan pejabat Kemenlu dan Departemen Imigrasi Suriah.
“Ini kami sedang maraton, besok (hari Minggu 15/1) rencananya kami akan bertemu dengan Kemenlu dan Imigrasi,” terang Tata.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 300 WNI itu, Tatang mengimbau agar mereka bisa saling bertukar informasi, dan selalu berkoordinasi dengan Satgas Evakuasi yang dikoordinatori Iskandar Suksmadi. Namun kemungkinan nantinya, tidak semua WNI di Suriah dapat dievakuasi, karena banyak dari mereka terutama Tenaga Kerja Indonesia Pekerja Laksana Rumah Tangga (TKI PLRT) yang belum terdata.
Data dari Kantor Imigrasi Suriah mengatakan terdapat sekitar 80 ribu WNI di negaranya. Namun KBRI hanya mempunyai data 12 ribu di antaranya. 12 ribu itu terdiri dari beberapa diplomat, satu ekspatriat, 200 mahasiswa, dan selebihnya adalah TKI informal.
Keamanan WNI di Suriah kini menjadi perhatian Kemlu. Hal ini menyusul situasi dan keamanan yang semakin tidak menentu pasca konflik internal di negara tersebut. Selain Suriah, Nigeria juga mengalami nasib yang sama.
(her/nrl)











































