Berdasarkan pemantauan detikcom, Jumat (13/1/2012), kapal-kapal pemburu ini mengapung di sekitar PT Pusri dan 1 Ilir, tepatnya di lokasi Kuto Gawang, pusat pemerintahan Kerajaan Palembang beberapa abad lalu.
Setiap kapal terdiri dari empat-lima orang. Semuanya tampak bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana pendek. Menggunakan sebuah kompresor oksigen, selang panjang, dan tali, seorang penyelam tradisional menyelam ke dasar Sungai Musi sambil membawa sebuah karung yang terbuat dari kain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βYa, tergantung nasib. Kalau ada rezeki dapat potongan emas, seperti cincin atau gelang," kata Fendi, seorang pemburu barang berharga, tanpa mau menyebutkan apakah pekerjaan mereka sejak sepekan ini sudah mendapatkan hasil.
Yang jelas, setiap perahu jukung yang beroperasi menghabiskan uang minimal sekitar Rp 50 juta dalam sebulan. Uang ini digunaka buat makan, minum, dan membeli solar. Setahun lalu, Sungai Musi dipenuhi para pemburu barang berharga ini.
Ini bermula ketika ada pemburu yang menemukan sejumlah patung Budha ukuran kecil yang terbuat dari emas. Benda berharga ini dijual dengan nilai sekitar Rp 1 miliar. Persoalan ini menarik perhatian pemerintah, sehingga para arkeolog melakukan imbauan kepada mereka, jika mendapatkan benda berharga yangmerupakan peninggalan sejarah diserahkan kepada negara, dan akan diberi imbalan.
(anw/anw)










































