Mahasiswa Sekolah Vokasi UGM Kembali Demo

Mahasiswa Sekolah Vokasi UGM Kembali Demo

- detikNews
Jumat, 13 Jan 2012 11:55 WIB
Yogyakarta - Seratusan mahasiswa program Diploma (D) III, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Sekolah Vokasi (Forkomsi) hari ini kembali menggelar aksi demo. Mereka menuntut dibukanya kembali program alih jalur/ekstensi ke jenjang sarjana strata S-1 dan ditutupnya Sekolah Vokasi (SV) yang mengelola semua program studi D-3 di UGM.

Aksi hari ini diawali dari Bundaran Kampus UGM di Bulaksumur menuju Balairung Kantor Pusat UGM. Dalam aksi itu mahasiswa gabungan berbagai program studi D3 itu menuntut Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, MSc, PhD, untuk membuka kembali program alih jalur.

Saat ini di Kantor Pusat UGM tengah dilakukan rapat Senat Akademik (SA) UGM yang membahas masalah tuntutan mahasiswa program D-3.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain membawa poster dan spanduk, peserta aksi ada yang membawa boneka mirip boneka sawah dari jerami dengan mengenakan jas almamater UGM. Massa tidak memasuki lantai satu Balairung UGM. Namun massa menunggu di rerumputan halaman depan Balairung. Mereka menyatakan ingin mengawal rapat SA UGM yang membahas mengenai nasib program D-3 untuk alir jalur ke jenjang S-1.

Mereka juga mengancam akan melaporkan kepada Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY yang juga sebagai Ketua Umum Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada), jika tuntutan mahasiswa D-3 tidak didengar pimpinan UGM .

"Ini merupakan aksi lanjutkan kami yang dilakukan sejak bulan November dan Desember tahun lalu. Kami ingin mengawal rapat senat akademik yang dilakukan hari ini," ungkap salah satu koordinator aksi, Niel Awoy kepada wartawan di sela-sela aksi di depan Balairung UGM, Juma (13/1/2012).

Dia mengatakan mahasiswa D-3 menuntut dibuka kembali akses pada lulusan diploma III sekolah vokasi UGM untuk melanjutkan ke jenjangn sarjana. Sekolah vokasi yang saat ini mengelola semua program D-3 UGM tidak bisa memberikan akses mahasiswa untuk alih jalur.

"Hal ini sama saja sebagai bentuk pelanggaran hak pendidikan yang dilakukan UGM. Pasalnya, secara tidak langsung UGM juga telah menciptakan pendidikan yang tidak demokratis dan bentuk pelanggaran HAM," katanya.

Menurut Niel, jika tuntutan mahasiswa tidak dikabulkan, meeka mengancam akan mengadukan nasib mereka kepada Sultan HB X sebagai gubernur DIY maupun sebagai Ketua Umum Kagama.

"Kami juga akan mengadukan kepada Kemendikbud dengan mengirimkan surat untuk mencabut izin operasional sekolah vokasi," katanya.

Saat aksi berlangsung di sekitar kantor pusat hanya dijaga anggota Satuan Keamanan Kampus (SKK) UGM. Sedangkan aparat Polres Sleman hanya berjaga-jaga di luar gedung atau di depan Jl Kaliurang.

(bgs/anw)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads