"Banjir tidak akan terjadi sebesar banjir 2002," kata Sekjen Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Hermien Roosita, dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jl D.I. Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Kamis (12/01/2012).
Keyakinan KLH akan hal itu berdasar pada upaya-upaya yang memadai yang telah dilakukan pemerintah DKI Jakarta. "Sudah ada kanal banjir timur, kemudian di daerah utara beberapa drainase sudah diperluas," imbuh Menteri Lingkungan HidupΒ ο»ΏBalthasar Kambuaya di tempat yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Februari mungkin puncaknya (hujan), dari pantauan BMKG, (intensitas tinggi) mulai bulan Januari, puncaknya Februari, dan Maret mulai menurun," tutur Balthasar.
Sehubungan dengan itu, KLH juga telah memprediksi daerah-daerah yang berpotensi banjir di bulan Januari 2012. Khusus DKI Jakarta, daerah-daerah itu di antaranya Jakarta Barat (meliputi Kecamatan Cengkareng, Grogol Petamburan, Kali Deres, Kebon Jeruk, dan Taman Sari); Jakarta Pusat (meliputi Kecamatan Cempaka Putih, Gambir, Kemayoran, Menteng, Sawah Besar, Senen, dan Tanah Abang); Jakarta Selatan (meliputi Kecamatan Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, Pesanggrahan, dan Tebet); Jakarta Timur (meliputi Kecamatan Cakung, Cipayung, Ciracas, Jatinegara, Kramat Jati, Makasar, dan Pulo Gadung); serta Jakarta Utara (meliputi Kecamatan Cilincing, Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, dan Tanjung Priok).
Guna mengantisipasi hal itu, peran aktif masyarakat merupakan salah satu upaya yang penting. Menurut Balthasar, masyarakat dapat mengikuti informasi yang diberikan BMKG terkait prediksi cuaca.
"Informasi dari BMKG perlu diikuti dgn baik oleh masyarakat untuk mengetahui ancaman-ancaman banjir," ujar dia.
(lh/lh)











































