'Aku Nggak Diterima Sekolah karena Nggak Punya Ayah?'

'Aku Nggak Diterima Sekolah karena Nggak Punya Ayah?'

- detikNews
Selasa, 10 Jan 2012 18:12 WIB
Jakarta - "Jadi aku nggak diterima sekolah karena nggak punya ayah ya, Bun?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil AAA (12). Hati sang bunda, Ina, teriris mendengar pertanyaan putri sulungnya. Namun ibu tiga anak itu hanya memendam tangisnya.

Pertanyaan itu diajukan AAA kepada Ina saat gadis kecil kelas 7 SMP itu dinyatakan tidak diterima SMP Islam Terpadu Pesantren Nururrahman, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Ina panik karena pemberitahuan tidak diterimanya AAA di SMP itu mendadak. Pengumuman itu diterimanya Sabtu 7 Januari lalu. Padahal kegiatan belajar mengajar dimulai pada Senin 9 Januari.

AAA adalah siswi pindahan. Sejak ayahnya meninggal pada Desember 2011 lalu, sang ibu berharap AAA bersekolah di lokasi yang tidak jauh dari rumah. Ina pun memindahkan AAA dari SMP Putra Bangsa ke SMP IT Pesantren Nururrahman. SMP IT ini bisa ditempuh dalam waktu 5 menit. Apalagi ongkos ke sekolah hanya Rp 1.000. Jauh lebih murah ketimbang ongkos ke sekolah lamanya yang harus naik turun angkot hingga dua kali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di SMP IT ini juga sampai sore, sampai pukul 17.00 WIB, jadi saya merasa anak saya lebih aman di sekolah karena saya bisa usaha," tutur Ina.

Menurut dia, AAA adalah anak yang pintar. Di sekolah lamanya, AAA bahkan menduduki peringkat kedua. Pada Maret 2011 lalu, AAA juga pernah mengikuti tes masuk di SMP IT tersebut. Hasilnya, dari 180 peserta AAA ada di urutan 11. Sayang kala itu ayah AAA yang masih hidup tak mengizinkan putrinya bersekolah di sana.

"Malah Kakak (AAA) sudah ukur seragam juga di sekolah," keluh Ina.

Disampaikan dia, nilai AAA yang kurang saat tes penerimaan siswa adalah nilai Bahasa Inggris. Padahal nilai dia sebelumnya untuk mata pelajaran ini hampir selalu 9. Sejak SD pun AAA selalu masuk peringkat.

"Hasil tesnya sepertinya nggak bener, dimainin. Sepertinya sekolah ketakutan karena saya pernah minta keringanan biaya sekolah untuk Kakak. Caranya saya nggak suka saja," paparnya.

Ina malas ribut dengan pihak SMP IT, sehingga dia memilih diam. Namun dia berharap pengurus sekolah itu terbuka hatinya sehingga kasus yang sama tidak terulang.

Akhirnya AAA kembali bersekolah di SMP Putra Bangsa, sekolah lamanya. Pihak sekolah memberikan keringanan biaya SPP hingga 50 persen, sehingga sedikit meringankan Ina. Namun saat kenaikan kelas mendatang dia berencana memindahkan sekolah AAA ke SMP negeri di Jakarta.

"Rumah di sini (Depok) rencananya mau saya jual. Kebetulan saya bisa buka usaha di Lenteng Agung, jadi nanti anak-anak biar sekolah di Jakarta saja," ucap Ina yang enggan menggantungkan hidup diri dan anaknya kepada keluarganya.

(vit/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini