"Ya nggak ada masalah apa-apa," kata Julkar (31) dalam perbincangan dengan detikcom di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu (7/1/2012).
Julkar mengaku ada beberapa warga Camar Bulan yang menikah dengan warga Kampung Melano, Malaysia. Namun mengenai surat-surat pernikahan keduanya, Julkar tak begitu paham.
"Ada itu yang orang sini menikah dengan orang Malaysia. Biasa saja. Nggak pengaruh sama soal patok perbatasan itu," jelasnya.
Sama halnya dengan Julkar, kepala Pos Pantas Temajuk, Letkol Parjiyo mengaku memang tidak ada hal yang berpengaruh terhadap warga terkait ribut-ribut patok perbatasan beberapa waktu lalu. Hubungan warga Desa Temajuk dengan warga Kampung Melano, Malaysia, berjalan seperti biasa.
"Biasa saja. Waktu itu Komisi II sudah datang kemari dan sudah saya jelaskan kondisinya di sini bagaimana. Biasa saja. Malah anak kepala desa sini kawin dengan kepala desa sana (Malaysia)," tuturnya.
Menurut Parjiyo, warga Desa Temajuk malah sering bercocok tanam di Malaysia. Begitu juga sebaliknya. Keduanya pun sama-sama tidak keberatan jika tanah mereka dipakai untuk bercocok tanam.
"Warga sini banyak yang tanam bibit apa gitu di sana. Orang Malaysia juga nggak keberatan. Karena mereka kan satu keluarga juga. Cuma penjajah mereka saja yang beda. Satu Inggris satu Belanda," imbuhnya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelius mengaku kehidupan warga dua negara ini memang akur-akur saja. Menurut Cornelius, memang tidak ada patok yang bergeser. Hanya saja garis perbatasan Indonesia-Malaysia harus jelas.
"Saya minta dikembalikan ke zaman Belanda. Kalau yang sekarang kita dirugikan. Itu memang milik kita," ujarnya.
(gus/vit)











































