Benarkah Pria yang Dianiaya Neo-Nazi di Berlin WNI?

Benarkah Pria yang Dianiaya Neo-Nazi di Berlin WNI?

- detikNews
Selasa, 10 Jan 2012 16:21 WIB
Benarkah Pria yang Dianiaya Neo-Nazi di Berlin WNI?
Berlin - Aksi brutal kelompok Neo-Nazi di Berlin terhadap seorang pemuda berusia 23 tahun menjadi perhatian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Alasannya, pemuda tersebut diduga Warga Negara Indonesia (WNI). Tapi benarkah itu?

Hingga pagi tadi, KBRI di Berlin belum mendapatkan kepastian mengenai identitas korban. Polisi dan pihak rumah sakit yang didatangi tak mau memberikan penjelasan karena ada undang-undang privasi di negeri Bavaria tersebut.

Namun sejumlah media lokal di Jerman sudah memberitakan soal kabar ini. Salah satunya Welt.de, yang menulis bahwa korban penganiayaan tak membawa identitas apa pun. Dugaan sementara, korban bahkan berasal dari Maroko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun, ia telah dinyatakan berasal dari Maroko.," kata seorang juru bicara kepolisian. "Kita sekarang sedang memeriksa saksi-saksi," tambah juru bicara itu.

Berliner-kurier, salah satu media lokal di Berlin juga menulis bahwa korban adalah warga Maroko. Menurut keterangan saksi, pelaku memukuli pria Maroko tersebut hingga hidungnya patah dan mengalami cidera parah di bagian kepala.

Bahkan Bild, sebuah media terkemuka di Jerman sudah mendapatkan nama korban, yakni A Hamid-Tahar, pria asal Afrika Utara. Di dalam tulisan disebutkan, Hamid dipukuli tiga orang yang diduga Neo Nazi.

Aksi penganiayaan itu dipicu usai Hamid mengajak seorang wanita Jerman untuk minum kopi.

"Pergi ke negeri asalmu, jangan ganggu wanita Jerman kami," ucap para pemukul.

Sebelumnya, kantor berita Iran, IRNA memberitakan ada seorang warga negara Indonesia (WNI) mengalami luka parah dalam serangan rasial di Berlin, Jerman. Tidak disebutkan identitas pria Indonesia tersebut. WNI tersebut berumur 23 tahun.

Dikonfirmasi mengenai kemungkinan korban bukan WNI, pihak Kementerian Luar Negeri masih menelusuri informasi tersebut.

"Pihak Kemlu pejabat konsuler RI di Berlin sudah mendatangi rumah sakit di mana korban dirawat. Namun tidak diperkenankan bertemu karena masih dalam penanganan," ujar Tatang Razak, Direktur Perlingungan WNI Kemlu.

(mad/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini