Temukan VCD Dukung Capres, lluni Desak Kapolri Mundur
Minggu, 25 Jul 2004 17:21 WIB
Jakarta - Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Jakarta mendesak Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar untuk mengundurkan diri, karena dianggap tidak netral dalam pemilu presiden tahap pertama. Iluni mengaku mendapatkan bukti keterlibatan Polri dalam kecurangan pilpres melalui sebuah VCD yang ditemukannya.Desakan Iluni ini disampaikan oleh Dewan Penasihat Iluni Jakarta, Irawanto, Agus Hudri Sitompul dan anggota DPD terpilih Jakarta Marwan Batubara kepada wartawan dalam acara "Mengungkap Skandal Pilpres 2004" di Hotel Sahid Jaya, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Minggu (25/7/2004).Dalam acara tersebut, Iluni mengundang sejumlah tokoh, seperti Jumhur Hidayat, Samuel Koto, Rosa Damayanti dan sejumlah perwakilan tim sukses capres lainnya. Tak hanya itu, tampak jua sejumlah anggota keamanan berpakaian preman berada ruangan. Malah, akhir acara jumpa pers tersebut, Kapolres Jakarta Pusat datang memantau kegiatan tersebut.Dalam kesempatan tersebut diputar VCD mengenai pertemuan di Markas Polres Banjarnegara, Jawa Tengah tanggal 29 Mei 2004 yang dipimpin seorang perwira menengah berpangkat Komisaris Besar (Kombes) Polisi.Pertemuan itu dihadiri semua jajaran petinggi di Mapolres Banjarnegara, anggota Bhayangkari, dan sejumlah purnawirawan polisi dan jandanya.Irawanto mengatakan, dalam rekaman tersebut banyak menggunakan istilah tertentu. Contohnya, istilah (sandi-red) 'Mas Eko' panggilan untuk AD, 'Mas Dwi' panggilan untuk AU, 'Mas Tri' panggilan untuk AL, 'Mas Catur' panggilan untuk Kepolisian dan 'Nuraini' panggilan untuk Megawati.Dalam rekaman itu, sang Kombes Pol memberikan pengarahan atas perintah Kapolri mengenai persiapan pemilihan presiden 2004. Sang Kombes Pol tersebut memberikan penjelasan setiap figur capres dan cawapres serta misi dan visinya, terutama siapa yang paling peduli terhadap Polri.Kombes Pol itu juga mempresentasikan sejumlah kekurangan dan kelemahan memilih capres-capres lainnya, seperti SBY-Kalla, Amien-Siswono dan Hamzah-Agum Gumelar. Sedangkan pasangan Mega-Hasyim diperlihatkan gamabar beserta program-programnya. Sedangkan capres lainnya hanya ditampilkan gambar dan nomor urutnya saja.Sang Kombes menyatakan bahwa pada masa pemerintahan sekaranglah perhatian pada kesejahteraan Polri sangat besar. Polri mandiri terpisah dari TNI, mendapatkan fasilitas cukup untuk melindungi masyarakat, dan 5 tahun ke depan sarana Polri akan terus meningkat. Apalagi gaji ke-13 akan segera mengucur, yang disambut dengan tepuk tangan meriah.Di sela-sela ceramah Kombes itu juga terdengar suara seorang perempuan,"Jadi pilih siapa, Bu?" Dijawab oleh peserta,"Megawati!"Sang Kombes juga menekankan bahwa Kapolri tidak mengarahkan untuk memilih salah satu capres, tapi tanyalah pada hati nurani.Setelah yang sang Kombes, seorang perempuan berseragam Bhayangkari berpidato. Dia menekankan bahwa semua capres adalah baik, namun yang mengakses ke sini (Polri) ya yang sedang berkuasa saat ini. Dia juga menekankan Polri tidak mengarahkan pada seorang capres, tapi tanyalah pada hati nurani.Di akhir pertemuan tersebut, Kapolres Banjarnegara tampak mengucapkan terima kasih kehadiran undangan dan terlihat beberapa petugas polisi memberikan "angpow" sebagai pengganti uang transportasi.Bungkusan CoklatUsai pemutaran VCD, Irawanto mengatakan, VCD tersebut didapatkan secara tidak sengaja yang sampai di meja depan Sekretariat Iluni, Jl. Cipaku I No. 11B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/7/2004). Stafnya di kantor itu melihat ada bungkusan berwarna coklat dan dibuka isinya berupa VCD. Setelah diputar, mereka terkejut karena isinya soal pertemuan yang menurut Iluni dikategorikan sebagai kecurangan dalam Pemilihan Presiden."Setelah kita kaji semalam dua hari isi VCD tersebut, kita mengambil kesimpulan isinya asli, walau telah diedit. Rekaman itu menunjukkan persistiwa pertemuan internal itu terjadi pada tanggal 29 Mei 2004 di Mapolres Banjarnegara," jelas Irawanto.Menurut Irawanto, Iluni Jakarta berhasil memperoleh bukti keterlibatan Polri dalam menyukseskan pasangan Megawati-Hasyim. Polri sebagai lembaga negara dan institusi penegakan hukum seharusnya bersikap netral,bukan justru menjadi alat penguasa dalam mempertahankan kedudukannya.Untuk itulah, Iluni, mendesak Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar untuk mengundurkan diri demi keutuhan konstitusi dan demokrasi. Iluni juga mengimbau agar TNI dan Polri bersikap netral dan tidak memihak salah satu calon presiden dan wakil presiden."Panwaslu juga harus bersikap tegas dan tanpa pandang bulu dalam menyikapi segala bentuk kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam Pemilu 2004," katanya.Sementara itu, Dewan Penasihat Iluni lainnya, Hudri Sitompul mengingatkan, setiap barang bukti yang diterima harus disampaikan kepada publik. "Kita belum sepenuhnya ini asli atau rekayasa. Untuk itu, kita mengajak teman-teman diapakan temuan ini," jelasnya.
(zal/)











































