"Artinya mungkin mini market tertentu itu pernah berhubungan dengan jasa pengamanan dari masyarakat setempat, namun beberapa waktu belakangan pelaku usaha tidak lagi menanggapi," tutur Johanes saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/1/2012).
Jasa pengamanan yang dimaksud Johanes adalah preman setempat. Jika memang benar aksi ini dilakukan oleh komplotan seperti itu, maka aksi-aksi perampokan yang terjadi selama ini menurutnya hanya gertakan belaka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, jika itu memang sebatas property crime, Johanes yakin itu bukan sebuah tren baru. Karena itu hal yang biasa terjadi khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.
"Selain itu kejahatan harta beda atau property crime pure itu biasanya tidak mungkin menghabisi nyawa. Meskipun kemungkinan itu ada, pembunuhan itu hanya tindakan menyelamatkan diri ketika tepergok," jelas pria yang sedang mengambil gelar Doktor di UI ini.
Maraknya aksi kriminal seperti ini, lanjut Johanes tidak lepas dari lemahnya sistem keamanan di minimarket-minimakret itu. Tentunya, mereka yang beraksi sudah sangat paham dengan kondisi dan suasana di tempatnya melakukan aksi.
"Tapi saya yakin ini tidak meresahkan karena target mereka adalah koorporasi. Nah kalau koorporasi itu tentu dia akan cepat tanggap melihat kondisi ini. Dia akan melakukan berbagai upaya pencegahan dan meningkatkan keamanan. Sebentar lagi tren ini juga menurun," tandasnya.
(lia/rdf)











































