Mengangkat Bali utara, Singaraja, kawasan yang jarang terjamah gemerlap wisata selain Pantai Lovina dan lompatan lumba-lumba. Erwin Arnada merekam pluralisme keberagamaan, Hindu yang mayoritas dan Islam yang minoritas.
"Kehidupan anak-anak dua desa ini merupakan muara panjang dari novel ini. Persahabatan Wayang Manik dan Samiihi. Mereka adalah sebuah representasi cita-cita, semangat hidup dan keikhlasan kepada sang Pencipta," tulis Erwin dalam novel Rumah di Seribu Ombak seperti dikutip detikcom dari buku tersebut, Selasa, (10/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Singaraja, terutama di beberapa desa dan banjarnya, saya melihat Bali yang sangat berbeda. Bali yang tidak plastis dan terkotaminasi dengan gaya hidup individualis. Di satu desa yang tidak jauh dari Pantai Lovina, Desa Kalibukbuk dan Desa Kaliasem, saya melihat peristiwa-peristiwa kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan yang biasa saya tangkap di belahan Bali lainnya," ungkap Erwin.
Layaknya novel tentang tutur masa kecil, maka Rumah di Seribu Ombah tetap memberikan optimisme. Meski seiring waktu, dalam novel ini membuka Bali yang kelam, phedofilia.
"Setelah berdiskusi dengan LSM dan para wartawan, akhirnya 'peristiwa kelam' anak-anak Singaraja, menjadi gagasan utama dalam novel ini," papar produser film Jaelangkung 3 (2007),Jakarta Undercover (2006),Cinta silver (2005),Catatan akhir sekolah (2005), 30 hari mencari cinta (2004) dan Tusuk jelangkung (2003).
(asp/rdf)











































